19/11/2023

Mengamalkan Ajaran Ikhlas Beramal


 SPIRIT MBS AL HIKMAH CEPU ๐ŸŒป

        Memurnikan Hati dalam beribadah hanya kepada Allah SWT, Bagaimana Caranya? Dalam beribadah kepada Allah SWT maupun beramal saleh dalam kehidupan di dunia, niat menjadi hal yang utama. Selain niat, keikhlasan juga diperlukan agar segala usaha yang di lakukan menjadi lebih baik. Keberadaan niat harus disertai pembebasan diri dari segala keburukan, nafsu, dan keduniaan; harus benar-benar ikhlas karena Allah. 

        Adapun Ikhlas itu sendiri artinya memurnikan tujuan ber-taqarrub kepada Allah SWT dari hal-hal yang mengotorinya. Arti lainnya: menjadikan Allah sebagai satu-satunya tujuan dalam segala bentuk ketaatan. Ikhlas adalah syarat diterimanya amal saleh yang dilaksanakan sesuai dengan sunnah Rasulullah SAW.  Ali Akhmadi dalam kitab Tazkiyatun Nafs menyebutkan, bahwa agama Islam merupakan agama yang bersih dari kesyirikan dan riya. Oleh karena itu, Ikhlas menjadi kunci utama dalam menjalankan segala ibadah dan ketentuan yang diperintahkan oleh Allah SWT.  Keikhlasan juga banyak dibahas dalam Alquran, seperti dalam Qs. al- An'am ayat 162,  "Katakanlah (hai Muhammad) sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah Rabb semesta alam." ๐Ÿ’

        Ini menunjukkan bahwa keikhlasan dan kepasrahan yang dilakukan Rasulullah dalam menjalankan rangkaian kehidupannya. "Seluruh kehidupan ini adalah ibadah".  Dalam QS as-Syura ayat 20 juga dituliskan, "Barang siapa yang menghendaki keuntungan di akhirat akan Kami tambah keuntungan itu baginya dan barang siapa yang menghendaki keuntungan di dunia Kami berikan kepadanya sebagian dari keuntungan dunia dan tidak ada baginya suatu bahagian pun di akhirat."๐ŸŽ‹

            Niat dan keikhlasan serta nikmat yang diberikan oleh Allah kepada hamba-Nya telah dituliskan dengan gamblang dalam Al-Quran. Jika ada orang yang sibuk dengan urusan kepada Allah SWT, dalam Al-Qur'an dijamin meski ia tidak meminta kenikmatan di dunia akan tetap diberikan. Namun, bagi seorang hamba yang hanya berorientasi pada dunia, ia mendapatkan dunia tanpa mendapatkan akhirat.

        Kata ikhlas memang gampang untuk diucapkan, tetapi susah untuk dilaksanakan. Terkadang sudah merasa ikhlas, tapi beberapa menit kemudian bisa jadi ada masalah sehingga niat ikhlas tadi menjadi batal. Kalau ikhlas yang dirasakan karena Allah, tidak akan ada omongan di belakang. Apa yang didapatkan seorang hamba adalah sama dengan apa yang ia ucapkan. Dalam surat Fathir ayat 10, Allah SWT ber firman, "Barang siapa yang menghendaki kemuliaan, maka bagi Allah-lah kemuliaan itu semuanya. Kepada-Nyalah naik perkataan-perkataan yang baik dan amal yang saleh dinaikkan-Nya. Dan orang-orang yang merencanakan kejahatan bagi mereka azab yang keras. Dan rencana jahat mereka akan hancur."

        Dengan demikian, Ikhlas ini memang tidak mudah, apalagi untuk Allah Swt. Adapun ciri-ciri orang yang ikhlas, dia tidak akan banyak bicara ketika melakukan suatu hal dan niatnya dari awal ditujukan habya kepada Allah. Sikapnya ini juga akan sama ketika ia mendapatkan pujian atau celaan orang lain" 

"Wahai nafsu, ikhlaskan niatmu agar terlepas dari belenggu kemalasan"

        Itulah syair orang-orang saleh dahulu ketika memanggil nafsu mereka untuk melaksanakan  Qiyamullail. Karena ikhlas adalah ruh ketaatan, inti taqarrub, kunci diterimanya amal-amal kebajikan, penyebab datangnya pertolongan dan taufik dari Tuhan semesta alam. Oleh karena itu, pertolongan Allah kepada hamba-Nya yang beriman akan diberikan sesuai dengan kadar keikhlasan dan kesungguhannya dalam beribadah. 

        Allah menyuruh kita untuk mengikhlaskan niat ibadah kita hanya karena-Nya. Allah berfirman,


ูˆَู…َุง ุฃُู…ِุฑُูˆุง ุฅِู„َّุง ู„ِูŠَุนْุจُุฏُูˆุง ุงู„ู„َّู€ู‡َ ู…ُุฎْู„ِุตِูŠู†َ ู„َู‡ُ ุงู„ุฏِّูŠู†َ ุญُู†َูَุงุกَ ...


Mereka tidak disuruh kecuali supaya beribadah kepada Allah dengan memurnikan segala ibadah hanya untuk-Nya (Ikhlas), dalam (menjalankan) agama yang lurus, ... (QS. Al-bayyinah : 5)


            Nabi saw.  memperingatkan umatnya agar beribadah murni karena Allah, bukan karena dunia, syahwat cinta pujian, dan cinta popularitas (riya’, ‘ujub dan sum’ah). Abu Hurairah r.a. menuturkan bahwa Nabi saw. bersabda, :


ู…َู†ْ ุชَุนَู„َّู…َ ุนِู„ْู…ًุง ู…ِู…َّุง ูŠُุจْุชَุบَู‰ ุจِู‡ِ ูˆَุฌْู‡ُ ุงู„ู„َّู‡ِ ุนَุฒَّ ูˆَุฌَู„َّ ู„ุงَ ูŠَุชَุนَู„َّู…ُู‡ُ ุฅِู„ุงَّ ู„ِูŠُุตِูŠุจَ ุจِู‡ِ ุนَุฑَุถًุง ู…ِู†َ ุงู„ุฏُّู†ْูŠَุง ู„َู…ْ ูŠَุฌِุฏْ ุนَุฑْูَ ุงู„ْุฌَู†َّุฉِ ูŠَูˆْู…َ ุงู„ْู‚ِูŠَุงู…َุฉِ


Barangsiapa menuntut ilmu yang seharusnya ditujukan hanya mengharap wajah Allรขh ‘Azza Wa Jalla, namun ternyata ia tidak menuntut ilmu kecuali untuk mendapatkan sedikit dari kenikmatan dunia, maka ia tidak akan mencium bau Surga pada hari Kiamat. (HR. Ahmad, Abu Dawud, dalam Shahih Jami', 6159)

         Ibnu Qoyyim berkata: "Menurut kadar niat, kesungguhan, kehendak dan keinginan seseorang untuk beramal saleh, maka sebesar itu pula taufik dan pertolongan Allah datang kepadanya. Pertolongan Allah akan diturunkan kepada seseorang menurut kadar kesungguhan, niat, harapan dan kerendahan hati orang itu. Allah Maha Adil dalam keputusannya, dan Maha Mengetahui terhadap segala sesuatu. Dia akan meletakkan taufik pada tempat-tempat yang tepat dan akan meletakkan kehinaan pada tempa-tempat yang tepat pula. Dia Maha Mengetahui dan Maha Bijaksana.

            Ibnu al-Jauzy berkata: "Hanya dengan kejujuran anda akan selamat, hanya dengan sungguh-sungguh anda akan sukses, gunakanlah waktumu sebaik-baiknya sebelum engkau menyesal. Inilah obat yang bermanfaat yaitu melepaskan punggung dari tempat tidur untuk Qiyamullail". (Ibnu Jauzy, at-Tabshirah, 2/324).



Menjadi Orang Mulia di Sisi Allah


 SPIRIT MBS AL HIKMAH CEPU ๐ŸŒป

           Siapapun dari kita pasti ingin menjadi orang yang mulia, baik di hadapan Allah maupun sesama manusia. Lalu siapakah yang dimaksud dengan orang mulia itu, sehingga dicintai Allah dan Rasulnya, juga orang-orang mukmin lainnya. Bukanlah orang yang sakti, orang yang kaya atau pejabat yang menyandang gelar sebagai orang kuat nan mulia. Akan tetapi, orang yang mampu mengendalikan kemarahannya, itulah orang yang paling kuat dan mulia. Begitu pesan Rasulullah Saw yang patut kita teladani. Seseorang disebut mulia jika dilimpahi rahmat dan dilindungi oleh Allah SWT. 

        Nah, agar mendapat rahmat dan perlindungan Allah, Rasulullah Saw telah bersabda, "Ada tiga hal yang apabila itu di lakukan akan dilindungi Allah dalam pemeliharaan-Nya, ditaburi rahmat-Nya, dan di masukkan ke dalam surga-Nya, yaitu Apabila diberi, ia bisa berterima kasih; apabila ia berkuasa, ia suka memaafkan; dan apabila marah, ia mampu menahan diri," (HR Hakim dan Ibnu HIbban dari Ibnu Abbas).

1. Mau Berterima kasih

        Ucapan terima kasih memang terkesan sederhana. Ucapan terima kasih menjadi indikasi bahwa kita mensyukuri pemberian seseorang. Rasulullah Saw bersabda, : 


ู…َู†ْ ุตُู†ِุนَ ุฅِู„َูŠْู‡ِ ู…َุนْุฑُูˆْูٌ ูَู„ْูŠَุฌْุฒِู‡ِ، ูَุฅِู†ْ ู„َู…ْ ูŠَุฌِุฏْ ู…َุง ูŠَุฌْุฒِูŠْู‡ِ ูَู„ْูŠُุซْู†ِ ุนَู„َูŠْู‡ِ، ูَุฅِู†َّู‡ُ ุฅِุฐَุง ุฃَุซْู†َู‰ ุนَู„َูŠْู‡ِ ูَู‚َุฏْ ุดَูƒَุฑَู‡ُ ูˆَุฅِู†ْ ูƒَุชَู…َู‡ُ ูَู‚َุฏْ ูƒَูَุฑَู‡ُ …


       "Barang siapa diperlakukan baik (oleh orang), hendaknya ia membalasnya. Apabila dia tidak mendapatkan sesuatu untuk membalasnya, hendaknya ia memujinya. Jika ia memujinya, maka ia telah berterima kasih kepadanya, namun jika menyembunyikannya, berarti dia telah mengingkarinya.," (HR. al-Bukhari dalam al-Adabul Mufrad, lihat Shahih al-Adab al-Mufrad no. 157)

        Subhanallah, begitulah indahnya Islam. Bahkan, saat hijrah, Rasulullah Saw juga berpesan agar orang-orang Muhajirin mengucapkan terima kasih kepada kaum Anshar yang telah menolong dan membantunya. Ketika kita orang-orang Muhajirin datang kepada Nabi Saw dengan mengatakan, "Wahai Rasulullah, orang-orang Anshar telah pergi membawa seluruh pahala. Kami tidak pernah melihat suatu kaum yang paling banyak pemberiannya dan paling bagus bantuannya di saat kekurangan selain mereka. Mereka juga telah mencukupi kebutuhan kita. Nabi Menjawab, 'Bukankan kalian telah memuji dan mendoakan mereka?' Para Muhajirin menjawab, 'Iya." Nabi Bersabda, 'Itu dibalas dengan itu'," (HR Abu Dawud dan An Nasai).

2. Mau Memaafkan

        Nasihat Rasulullah Saw selanjutnya adalah mudah memaafkan. Tak sekedar memaafkan, ketika kita sedang ada peluang, misalnya saat berkuasa, lalu bersedia memaafkan, sungguh itulah akhlak yang luar biasa. Dalam sebuah hadits qudsi disebutkan bahwa Nabi Musa As pernah bertanya kepada Allah SWT, "Ya Rabbi! Siapakah di antara hamba-Mu yang lebih mulia menurut pandangan-Mu? Allah berfirman, 'Ialah orang yang apabila berhasil menguasai musuhnya dapat segera memaafkannya'," (HR Kharaithi dari Abu Hurairah).

        Bahkan, Allah SWT menjamin akan memaafkan kita jika kita bersedia memberi maaf kepada orang lain. Di dalam Alquran telah disinggung,

 

ูˆَู„َุง ูŠَุงุۡชَู„ِ ุงُูˆู„ُูˆุง ุงู„ูۡ€ูَุถูۡ„ِ ู…ِู†ูۡƒُู…ۡ ูˆَุงู„ุณَّุนَุฉِ ุงَู†ۡ ูŠُّุคุۡชُูˆุۡۤง ุงُูˆู„ِู‰ ุงู„ูۡ‚ُุฑุۡจٰู‰ ูˆَุงู„ูۡ…َุณٰูƒِูŠูۡ†َ ูˆَุงู„ูۡ…ُู‡ٰุฌِุฑِูŠูۡ†َ ูِู‰ۡ ุณَุจِูŠูۡ„ِ ุงู„ู„ّٰู‡ِ ‌‌ۖ ูˆَู„ูۡŠَู€ุนูۡُูˆุۡง ูˆَู„ูۡŠَู€ุตูۡَุญُูˆุۡง‌ ؕ ุงَู„َุง ุชُุญِุจُّูˆูۡ†َ ุงَู†ۡ ูŠَّุบูۡِุฑَ ุงู„ู„ّٰู‡ُ ู„َู€ูƒُู…ۡ‌ ؕ ูˆَุงู„ู„ّٰู‡ُ ุบَูُูˆุۡฑٌ ุฑَّุญِูŠูۡ…ٌ


22. dan janganlah orang-orang yang mempunyai kelebihan dan kelapangan di antara kamu bersumpah bahwa mereka (tidak) akan memberi (bantuan) kepada kaum kerabat(nya), orang-orang yang miskin dan orang-orang yang berhijrah pada jalan Allah, dan hendaklah mereka mema'afkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu? dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang (QS An Nuur: 22)

        Ayat ini berhubungan dengan sumpah Abu Bakar r.a. bahwa Dia tidak akan memberi apa-apa kepada kerabatnya ataupun orang lain yang terlibat dalam menyiarkan berita bohong tentang diri 'Aisyah. Maka turunlah ayat ini melarang beliau melaksanakan sumpahnya itu dan menyuruh mema'afkan dan berlapang dada terhadap mereka sesudah mendapat hukuman atas perbuatan mereka itu.

3. Mau Mengendalikan Marah. 

          Sifat dan teladan Rasulullah selanjutnya adalah mengendalikan marah. Diungkapkan oleh Rasulullah Saw, "Orang kuat bukanlah orang yang menang bergulat, tetapi yang disebut orang kuat adalah orang yang bisa mengendalikan dirinya pada saat marah," (HR Bukhari dan Muslim).

        Masya Allah, marah (ghadlab) memang fitrah dari Allah SWT kepada manusia. Setiap manusia pasti pernah merasakan rasa amarah. Namun demikian, Islam telah memerintahkan umatnya agar bisa menahan amarah. Allah SWT berfirman, ".....Dan orang-orang yang bisa menahan amarahnya dan memaafkan kesalahan orang lain," (QS Ali Imran: 135).

        Ayat ini menjelaskan bahwa mengendalikan amarah adalah salah satu sifat orang-orang yang bertakwa serta berbudi pekerti luhur. Nabi Saw bersabda kepada Uqbah bin Amir Ra, "Wahai Uqbah, maukah engkau aku beritahukan budi pekerti yang paling utama ahli dunia dan akhirat, yaitu menyambung silaturahim dengan orang yang telah memutuskannya, memberi orang yang tidak pernah memberimu, dan memaafkan orang yang pernah menganiayamu.

ุนَู†ْ ุฃَุจِูŠْ ู‡ُุฑَูŠْุฑَุฉَ ุฑَุถِูŠَ ุงู„ู„َّู‡ُ ุนَู†ْู‡ُ ุฃَู†َّ ุฑَุฌُู„ًุง ู‚َุงู„َ ู„ِู„ู†َّุจِูŠِّ ุตَู„َّู‰ ุงู„ู„َّู‡ُ ุนَู„َูŠْู‡ِ ูˆَุณَู„َّู…َ : ุฃَูˆْุตِู†ِูŠْ ، ู‚َุงู„َ : (( ู„َุง ุชَุบْุถَุจْ )). ูَุฑَุฏَّุฏَ ู…ِุฑَุงุฑًุง ؛ ู‚َุงู„َ : (( ู„َุง ุชَุบْุถَุจْ )). ุฑَูˆَุงู‡ُ ุงู„ْุจُุฎَุงุฑِูŠُّ


"Dari Abu Hurairah ‎ra.‎‎ bahwa ada seorang laki-laki berkata kepada Nabi ‎Muhammad SAW : “Berilah aku wasiat”. Beliau menjawab, “Engkau jangan marah!” Orang itu mengulangi permintaannya berulang-ulang, kemudian Nabi saw. bersabda: “La Tagh-Dhob; Jangan marah!" (H.R. Bukhari)

        Jangan Emosi didahulukan nanti menyesal akhirnya, dan  jangan Amarah dikedepankan, nanti menyesal di belakangnya Amarah bisa menimbulkan hal-hal yg tdk diinginkan dan cenderung mengajak pada kejelekan. Amarah bisa merugikan diri sendiri dan oranglain jika pada akhirnya tidak terbukti melakukan kesalahan. Bersabarlah, karena dalam bersabar ada kebaikan dan Allah menyukai orang-orang yang sabar.