13/12/2025

Bacaan Sholat dan Terjemah Sesuai HPT Muhammadiyah


Doa Iftitah 

اَللّهُمَّ باَعِدْ بَيْنِى وَبَيْنَ خَطَاياَيَ كَمَا باَعَدْتَ بَيْنَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِاَللّهُمَّ نَقِّنِى مِنَ الْخَطَاياَ كَماَ يُنَقَّى الثَّوْبُ اْلأَبْيَضُ مِنَ الدَّنَسِاَللّهُمَّ اغْسِلْ خَطَاياَيَ باِلْماَءِ وَالثَّلْجِ وَالْبَرَدِ. 

Allaahumma baa’id bainii wabainaa khotoo yaa ya kamaa baa ‘adta bainal masyriqi wal maghrib. Allaahumma naqqinii minal khotoo yaa kamaa yunqqots tsaubul abyadhuu minaddanas. Allaahummaghsil khotoo yaa ya bil maa i wats tsalji walbarod. 

Artinya :
“Ya Allah, jauhkanlah antara diriku dan di antara kesalahan-kesalahanku sebagaimana Engkau jauhkan antara timur dan barat.
Ya Allah, bersihkanlah aku dari kesalahan 
sebagaimana dibersihkannya kain putih dari kotoran. 
Ya Allah, cucilah kesalahan-kesalahanku dengan air, salju dan embun.” 

Ta’aw-wudz 

أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ 

Au-dzu billa-himinasy syaita nirraji-m ( disetiap Rakaat ) 

Artinya : 
Aku berlindung pada Allah, dari syaithan yang terkutuk


Basmalah 

بِسْمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْ 

Bismillahirrahmannirrahiim
( Disetiap rakaat secara si’ir) 

Artinya :
Atas nama Allah, maha Pemurah, maha Pengasih


Fatihah


اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِیْنَۙ, الرَّحْمٰنِ الرَّحِیْمِۙ, مٰلِكِ یَوْمِ الدِّیْنِؕ, اِیَّاكَ نَعْبُدُ وَ اِیَّاكَ نَسْتَعِیْنُؕ, اِهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِیْمَۙ, صِرَاطَ الَّذِیْنَ اَنْعَمْتَ عَلَیْهِمْ غَیْرِ الْمَغْضُوْبِ  عَلَیْهِمْ وَ لَا الضَّآلِّیْنَ۠


Al-ḥamdu lillāhi rabbil-‘ālamīn. Ar-raḥmānir-raḥīm. Māliki yaumid-dīn. Iyyāka na’budu wa iyyāka nasta’īn. Ihdinaṣ-ṣirāṭal-mustaqīm. Sirāṭallażīna an’amta ‘alaihim gairil-magḍụbi ‘alaihim wa laḍ-ḍāllīn. 

Artinya :
Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. 
Yang maha Pemurah lagi Maha Pengasih, Yang mengadili pada hari Qiyamat. Hanya Engkau yang aku sembah dan hanya Engkau yang aku mintai pertolongan. Tunjukkanlah aku kepada jalan yang lurus. Jalannya orang-orang yang Engkau beri keni’matan, yang tidak dimurkai dan tidak sama sesat.


Ta’min


آمِيْنُ 

A-mi-n 

Artinya : 
Kabulkanlah permohonanku. 

Surat dari Al Qur’an
Membaca salah satu surat dari Al Qur’an ( dua rakaat permulaan ) 

Bacaan Ruku’/Sujud 

سُبْحَانَكَ اللّهُمَّ رَبَّناَ وَبِحَمْدِكَ اَللّهُمَّ اغْفِرْلِى\ 

Subhaanaka allaahuma robbanaa wabihamdika allaahumaghfirlii. 

Artinya: 
Maha suci Engkau, ya Allah, dan dengan memuji kepada Engkau, ya Allah, aku memohon ampun. 

Do’a I’tidal 

سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ. رَبَّنَا وَلَكَ اْلحَم 

Sami’a Allohu liman hamidah. Robbanaa walakalhamdu  

Artinya: 
Allah mendengar pujian dari orang yang memuji-Nya, Wahai Rabb kami, bagi-Mu segala puji



Do’a Duduk di antara Dua Sujud 

اَللّهُمَّ اغْفِرْلِى وَارْحَمْنِى وَاجْبُرْنِى وَاهْدِنِى وَارْزُقْنِى 

Allaahummaghfirlii warhamnii wajburnii wahdinii warzuqnii. 

Artinya: 
Ya Allah ampunilah aku, kasihanilah aku, cukupilah aku, tunjukilah aku, dan berilah rizki untukku.



Do’a sesudah Tasyahud Akhir 

اَللّهُمَّ إِنِّى أَعُوْذُبِكَ مِنْ عَذَابِ جَهَنَّمَ, وَمِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ, وَمِنْ فِتْنَةِ الْمَحْياَ وَالْمَمَاتِ, وَمِنْ شَرِّ فِتْنَةِ الْمَسِيْحِ الدَّجَّالِ 

Allaahumma innii a’uudzubika min ‘adzaabi jahannam. Wamin ‘adzaabil qobri. Wamin fitnatil mahyaa walmamaati. Wamin syarri fitnatil masiihiddadjaal. 

Artinya: 
Ya Allah aku berlindung kepada Engkau dari siksa jahannam dan siksa kubur, begitu juga dari fitnah hidup dan mati, serta dari jahatnya fitnah dajjal (pengembara yang dusta). 

Salam 

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ 

Assalaamua’alaikum warohmatullaahi wabarokaatuh. 

Artinya: 
Berbahagialah kamu sekalian dengan rahmat dan berkah Allah. 

Sumber    : Himpunan Putusan Tarjih (HPT) Muhammadiyah

30/05/2025

Sakit: Rahmat yang Tak Kasat Mata

 


Seseorang yang diuji dengan sakit, bukan berarti ia tidak merasa lelah. Ia mungkin menahan nyeri, menangis di tengah malam, dan berharap semua segera berakhir. Namun, di balik semua itu, ada satu hal yang tetap ia jaga: keyakinan bahwa Allah tidak akan menyia-nyiakan rasa sakitnya.

"Di balik rasa sakitnya, ada rahmat yang tak kasat mata.
Setiap detik penderitaan yang ia alami akan terbayar dengan berguguran dosa-dosa.
Bukan sebagai hukuman, tapi sebagai bentuk kasih sayang Allah yang sedang membersihkan jiwa dan raganya."

Sakit, meski perih, sejatinya adalah proses penyucian dari langit. Allah membersihkan hamba-Nya dengan cara yang lembut tapi mendalam. Tubuh boleh melemah, tapi ruh sedang dikuatkan.


📖 Dalil Hadis: Penghapus Dosa

Rasulullah ﷺ bersabda:

مَا يُصِيبُ ٱلْمُسْلِمَ مِنْ نَصَبٍ وَلَا وَصَبٍ وَلَا هَمٍّ وَلَا حُزْنٍ وَلَا أَذًى وَلَا غَمٍّ حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا إِلَّا كَفَّرَ ٱللَّهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ

"Tidaklah seorang Muslim tertimpa keletihan, penyakit, kegundahan, kesedihan, gangguan, atau kesusahan—bahkan duri yang menusuknya—melainkan Allah akan menghapus sebagian dari kesalahan-kesalahannya karena itu."
(HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis ini menjadi pelipur lara bagi siapa pun yang sedang terbaring dalam sakit. Bahwa setiap rasa tidak nyaman yang dirasakan, sedang Allah ubah menjadi kebaikan.


📖 Dalil Al-Qur'an: Ujian Adalah Jalan Menuju Derajat Tinggi

وَلَنَبْلُوَنَّكُم بِشَيۡءٖ مِّنَ ٱلۡخَوۡفِ وَٱلۡجُوعِ وَنَقۡصٖ مِّنَ ٱلۡأَمۡوَٰلِ وَٱلۡأَنفُسِ وَٱلثَّمَرَٰتِۗ وَبَشِّرِ ٱلصَّـٰبِرِينَ • ٱلَّذِينَ إِذَآ أَصَـٰبَتۡهُم مُّصِيبَةٞ قَالُوٓاْ إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّآ إِلَيۡهِ رَٰجِعُونَ • أُوْلَٰٓئِكَ عَلَيۡهِمۡ صَلَوَٰتٞ مِّن رَّبِّهِمۡ وَرَحۡمَةٞۖ وَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡمُهۡتَدُونَ

"Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar,
(yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka berkata: ‘Sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nya kami kembali’.
Mereka itulah yang mendapat keberkahan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk."
(QS. Al-Baqarah: 155–157)


🌼 Penutup: Sakit Bukan Akhir, Tapi Awal Cahaya

Sakit bukanlah akhir dari segalanya. Justru ia menjadi jalan awal menuju pembersihan dan kemuliaan. Maka, bagi yang sedang diuji, tetaplah bersabar dan bertawakkal. Karena Allah melihat setiap air mata, mendengar setiap doa, dan mencatat setiap detik kesabaran.

Dan pada akhirnya, jiwa yang telah diuji dengan sabar akan keluar lebih bersih, lebih kuat, dan lebih dekat dengan-Nya.

29/05/2025

Memaafkan: Jalan Menuju Kedamaian Jiwa

 


Memaafkan bukan perkara mudah. Luka yang tertinggal seringkali begitu dalam, bahkan bertahun-tahun setelah kejadian itu berlalu. Namun, orang yang memaafkan bukanlah orang yang lemah—ia justru memiliki kekuatan hati yang luar biasa.

"Seseorang yang memaafkan, bukan berarti ia tidak terluka.
Tapi ia memilih tenang daripada terus menyimpan bara yang membakar hatinya sendiri.
Karena ia sadar, memaafkan adalah langkah untuk menyembuhkan dirinya,
melepaskan beban, dan memberi ruang untuk kedamaian."

Dalam memaafkan, seseorang tidak hanya membebaskan orang lain—tetapi juga membebaskan dirinya sendiri dari kemarahan, dendam, dan rasa sesak yang menggerogoti ketenangan.


Dalil Al-Qur’an: Allah Mencintai Orang yang Memaafkan

Allah ﷻ berfirman:

وَلۡيَعۡفُوا۟ وَلۡيَصۡفَحُوٓا۟ۗ أَلَا تُحِبُّونَ أَن يَغۡفِرَ ٱللَّهُ لَكُمۚ وَٱللَّهُ غَفُورٞ رَّحِيمٞ

"Dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang."
(QS. An-Nūr: 22)

Ayat ini mengajarkan bahwa memaafkan adalah cara kita meniru kasih sayang Allah. Jika kita ingin diampuni oleh Allah, maka kita pun harus belajar memberi maaf kepada sesama.


Hadis Nabi ﷺ: Kekuatan Ada pada Pengendalian Diri

Rasulullah ﷺ bersabda:

لَيْسَ الشَّدِيدُ بِالصُّرَعَةِ، إِنَّمَا الشَّدِيدُ الَّذِي يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِندَ الْغَضَبِ

"Orang kuat bukanlah yang menang dalam bergulat, tetapi orang kuat adalah yang mampu menahan dirinya saat marah."
(HR. Bukhari dan Muslim)

Memaafkan berarti mengendalikan diri, meredam kemarahan, dan memenangkan pertempuran batin yang sering tak terlihat oleh orang lain.


Mengapa Harus Memaafkan?

  1. Karena dendam tidak pernah menyembuhkan luka.
    Ia hanya memperpanjang penderitaan batin.

  2. Karena kita pun sering kali menjadi orang yang salah.
    Dan berharap orang lain memberi kita maaf.

  3. Karena memaafkan adalah bentuk keikhlasan.
    Dan keikhlasan membuka pintu-pintu rahmat Allah.


Penutup: Memaafkan Bukan Melupakan, Tapi Melepaskan

Memaafkan bukan berarti melupakan apa yang terjadi.
Bukan juga membenarkan kesalahan.
Namun, memaafkan adalah keputusan untuk tidak membiarkan luka menguasai hidup kita.
Itulah kebebasan sejati: bebas dari beban masa lalu, dan memberi ruang bagi kedamaian untuk tumbuh.

Jadi, jika kamu sedang menyimpan luka, lihatlah ke dalam hati.
Mungkin sudah waktunya... untuk melepaskan, dan memaafkan.


Renungan Kehidupan - Subuh: Cermin Iman, Penentu Keselamatan


Salat Subuh bukan hanya rutinitas ibadah. Ia adalah tolok ukur keimanan, penjaga dari neraka, dan sumber kekuatan jiwa. Siapa yang menjaga Subuh, sejatinya sedang menjaga dirinya dari kehancuran akhirat dan juga dari kelemahan hidup di dunia.

"Jika Subuhnya senantiasa dipelihara... Itu tanda akan selamat dari neraka.
Jika Subuhnya tiada dia tinggal... Allah melindunginya dari segala arah.
Jika Subuhnya didahului dengan sunnah... Pasti seluruh dunia beserta isinya, dia dapat.
Jika kau ingin lihat orang Islam, lihatlah saat salat hari raya dan salat Jum’at.
Tapi jika kau ingin lihat orang beriman, lihatlah saat salat Subuh."
Buya HAMKA

Ucapan Buya HAMKA ini menyiratkan bahwa salat Subuh adalah penyaring utama antara mereka yang sekadar Islam, dan mereka yang sungguh-sungguh beriman.


🌅 Salat Subuh Menyelamatkan dari Neraka

Rasulullah ﷺ bersabda:

لَن يَلِجَ النَّارَ أَحَدٌ صَلَّى قَبْلَ طُلُوعِ الشَّمْسِ وَقَبْلَ غُرُوبِهَا

"Tidak akan masuk neraka seseorang yang mengerjakan salat sebelum terbit matahari dan sebelum terbenamnya."
(HR. Muslim)

Yang dimaksud adalah salat Subuh dan salat Ashar. Dua waktu ini sangat berat bagi banyak orang karena berada di titik kesibukan atau kelemahan — Subuh saat mengantuk, Ashar saat urusan dunia memuncak. Maka siapa yang menjaga keduanya, ia telah menundukkan nafsunya untuk Allah.


🕌 Tanda Orang Beriman: Hadir di Masjid Saat Subuh

Allah ﷻ berfirman:

إِنَّمَا يَعۡمُرُ مَسَٰجِدَ ٱللَّهِ مَنۡ آمَنَ بِٱللَّهِ وَٱلۡيَوۡمِ ٱلۡأٓخِرِ وَأَقَامَ ٱلصَّلَوٰةَ وَءَاتَى ٱلزَّكَوٰةَ وَلَمۡ يَخۡشَ إِلَّا ٱللَّهَۖ فَعَسَىٰٓ أُوْلَٰٓئِكَ أَن يَكُونُواْ مِنَ ٱلۡمُهۡتَدِينَ

"Sesungguhnya yang memakmurkan masjid-masjid Allah hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir, menegakkan salat, menunaikan zakat, dan tidak takut (kepada apa pun) selain kepada Allah. Maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk orang-orang yang mendapat petunjuk."
(QS. At-Taubah: 18)

Hadir di masjid untuk salat Subuh adalah tanda bashirah (mata hati) yang hidup, karena ia mendahulukan Allah di atas rasa kantuk dan kenyamanan duniawi.


☀️ Keutamaan Salat Sunnah Subuh

Nabi ﷺ bersabda:

رَكْعَتَا الْفَجْرِ خَيْرٌ مِنَ الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا

"Dua rakaat salat sunnah sebelum Subuh lebih baik daripada dunia dan segala isinya."
(HR. Muslim)

Jika dua rakaat sunnah Subuh saja lebih baik dari dunia, bagaimana dengan salat wajib Subuhnya sendiri? Maka beruntunglah orang-orang yang tidak hanya menunaikan salat Subuh, tapi juga menghiasinya dengan sunnah.


Penutup: Subuh adalah Titik Awal Keberkahan

Subuh bukan sekadar ibadah, tapi permulaan hari yang membawa cahaya keberkahan. Orang yang menjaga Subuh bukan hanya menjaga hubungan dengan Tuhannya, tapi juga sedang menyusun hidupnya dengan keberkahan langit.

Jangan lewatkan Subuhmu. Karena bisa jadi, di sana tersimpan jawaban dari semua doa yang selama ini kau panjatkan.

28/05/2025

Renungan Kehidupan, Doa: Harapan di Tengah Gelombang Hidup



Tidak ada hidup yang benar-benar bebas dari ujian. Setiap manusia diuji—dengan kehilangan, kekecewaan, kesendirian, atau harapan yang belum juga tiba. Namun, di tengah derasnya gelombang ujian itu, ada satu pegangan yang tak pernah putus: doa.

"Seseorang yang teguh berdoa kepada Allah, bukan berarti jalan hidupnya selalu mudah.
Tapi di setiap doa yang dipanjatkannya, ia menemukan harapan untuk tidak menyerah.
Karena ia yakin bahwa Allah selalu mendengar dan memberi yang terbaik di waktu yang tepat."


Doa bukan hanya sarana meminta, tetapi juga cara menyambung kekuatan dari langit. Dalam doa, seorang hamba meluruhkan egonya, menyerahkan seluruh dirinya, dan percaya bahwa Tuhan-lah yang lebih tahu apa yang baik baginya.


Dalil Al-Qur’an: Allah Mendengar Doa

Allah ﷻ berfirman:



وَقَالَ رَبُّكُمُ ٱدۡعُونِيٓ أَسۡتَجِبۡ لَكُمۡۚ إِنَّ ٱلَّذِينَ يَسۡتَكۡبِرُونَ عَنۡ عِبَادَتِي سَيَدۡخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ


"Dan Tuhanmu berfirman: 'Berdoalah kepada-Ku, niscaya Aku perkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina.'" (QS. Ghāfir: 60)

Ayat ini menunjukkan bahwa Allah tidak hanya memerintahkan kita untuk berdoa, tetapi juga menjanjikan jawaban-Nya. Namun, jawaban itu bisa berupa apa yang kita minta, bisa juga berupa sesuatu yang lebih baik dari yang kita harapkan, di waktu yang terbaik menurut Allah.


Doa Memberi Harapan, Bukan Janji Jalan Mulus

Berdoa tidak berarti hidup akan langsung berubah seketika. Terkadang jalan tetap terjal, tapi hati menjadi kuat. Terkadang ujian tetap hadir, tapi dada terasa lapang. Karena kekuatan doa bukan hanya pada hasilnya, tapi juga pada ketenangan yang menyertainya.

Rasulullah ﷺ bersabda:


يُسْتَجَابُ لِأَحَدِكُمْ مَا لَمْ يَعْجَلْ، يَقُولُ: دَعَوْتُ فَلَمْ يُسْتَجَبْ لِي


"Doa kalian akan dikabulkan selama kalian tidak tergesa-gesa dengan berkata: 'Aku telah berdoa, tapi belum juga dikabulkan.'" (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis ini mengajarkan kita untuk tetap sabar dalam berdoa. Karena yang tergesa-gesa seringkali tak mampu melihat keindahan takdir yang sedang Allah siapkan.


Penutup: Doa, Nafas Panjang Seorang Mukmin

Doa adalah penopang jiwa yang letih, pelipur bagi hati yang hampir menyerah, dan tali penghubung antara bumi dan langit. Bahkan saat tidak ada manusia yang memahami, Allah memahami. Bahkan saat semua pintu tertutup, pintu langit tetap terbuka.

Maka jangan berhenti berdoa.
Bukan karena jalanmu mudah, tapi karena doa-lah yang membuatmu tidak berhenti melangkah.
Yakinlah, Allah mendengar, dan akan memberi… tepat waktu.

27/05/2025

Renungan Kehidupan: Tenggelam Bukan Akhir, Tapi Tanda Akan Bersinar Kembali


Alam adalah guru yang tak pernah berhenti mengajar. Dari embun pagi hingga senja yang redup, setiap bagiannya mengajarkan harapan, keteguhan, dan janji akan kebangkitan. Termasuk dari matahari, makhluk langit yang setiap hari tenggelam… namun tak pernah absen untuk kembali terbit.

"Matahari selalu mengingatkanmu: tidak peduli seberapa lama kamu tenggelam, kamu akan terbit kembali lebih terang."

Tenggelam bukanlah akhir. Segelap apapun malam, selalu ada fajar yang menanti. Jangan cemas pada saat kamu tenggelam, karena itu adalah tanda bahwa besok kamu akan bersinar lebih terang.


Seperti halnya mentari, hidup manusia juga mengalami “terbenam” — fase sulit, jatuh, gagal, kehilangan, atau kegelapan. Tapi semua itu bukan penanda kehancuran, melainkan waktu persiapan untuk bersinar lebih baik.


Dalil Al-Qur’an: Fajar Setelah Malam

Allah ﷻ berfirman:



فَإِنَّ مَعَ ٱلۡعُسۡرِ يُسۡرًا ٧ إِنَّ مَعَ ٱلۡعُسۡرِ يُسۡرًا ٨


"Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.
Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan."
(QS. Al-Insyirāḥ: 6–7)

Dua kali pengulangan ini bukan tanpa sebab. Ia adalah penguat jiwa: bahwa setiap “malam” pasti memiliki “fajar”, dan setiap tenggelam selalu mengandung janji terbit.

Belajar dari Matahari

Matahari tidak mempersoalkan mengapa ia harus tenggelam, atau mengapa malam begitu lama. Ia hanya menunaikan tugasnya. Dan karena itulah ia terbit dengan cahaya yang lebih terang dan bermanfaat.

Demikian pula kita. Saat masa sulit datang, bersabarlah, jangan menyerah. Fase gelap itu mungkin perlu untuk membentuk kekuatan batinmu, dan untuk menyadarkan bahwa cahaya hanya berarti setelah adanya kegelapan.


Dalil Lain: Allah-lah Pencipta Fajar

Allah ﷻ berfirman:



فَالِقُ ٱلۡإِصۡبَاحِۖ وَجَعَلَ ٱلَّيۡلَ سَكَنٗا وَٱلشَّمۡسَ وَٱلۡقَمَرَ حُسۡبَانٗاۚ ذَٰلِكَ تَقۡدِيرُ ٱلۡعَزِيزِ ٱلۡعَلِيمِ


"Dia menyingsingkan fajar, dan menjadikan malam untuk beristirahat, dan (menjadikan) matahari dan bulan untuk perhitungan waktu. Itulah ketetapan (Allah) Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui."
(QS. Al-An'ām: 96)

Fajar tidak akan terbit tanpa izin Allah. Maka, jangan ragukan bahwa Allah juga mampu menyingsingkan fajar di dalam hidupmu. Dalam waktu-Nya, engkau akan bersinar kembali.


Penutup: Terus Bergerak, Walau Terasa Gelap

Jika hari ini kamu merasa "tenggelam", jangan takut. Karena Allah tidak akan membiarkan hamba-Nya lama dalam gelap, jika ia bersabar dan terus berharap. Seperti matahari yang tenggelam dengan tenang, lalu kembali terbit membawa cahaya yang hangat—demikian pula hidupmu.

Yakinlah: Tenggelam bukan akhir, tapi jeda menuju terbit yang lebih terang.

17/05/2025

Renungan Kehidupan - Bashīrah: GPS Ruhani yang Menuntun Jiwa

 



Dalam kehidupan ini, kita tidak hanya butuh mata fisik untuk melihat, tetapi juga mata hati—bashīrah—untuk memahami arah hidup. Karena tidak semua yang tampak indah itu benar, dan tidak semua yang tampak sulit itu buruk.


"Bashīrah (mata hati) itu ibarat GPS ruhani. Ketika bashīrah kita hidup, kita bisa bedakan: apa yang penting apa yang cuma lewat, mana cahaya mana gemerlap palsu, mana jalan mana jebakan."


Orang yang tajam bashīrahnya akan mudah memilah prioritas. Ia tidak tertipu dunia, tidak tergelincir oleh nafsu, dan tidak mudah silau dengan hal yang hanya tampak di permukaan.


Melihat Lebih Dalam, Bukan Lebih Banyak

"Bashīrah itu bukan soal melihat lebih banyak, tapi melihat lebih dalam."


Kebijaksanaan sejati bukan terletak pada banyaknya informasi yang dimiliki, tetapi pada kedalaman dalam memahami hikmah di balik setiap kejadian. Orang yang memiliki bashīrah akan selalu melihat dengan kacamata iman: bahwa setiap ujian adalah jalan, bukan penghalang.


Dalil: Orang Beriman Melihat dengan Cahaya Bashīrah

Allah ﷻ berfirman:


قُلۡ هَٰذِهِۦ سَبِيلِيٓ أَدۡعُواْ إِلَى ٱللَّهِ عَلَىٰ بَصِيرَةٍ أَنَا۠ وَمَنِ ٱتَّبَعَنِيۖ وَسُبۡحَٰنَ ٱللَّهِ وَمَآ أَنَا۠ مِنَ ٱلۡمُشۡرِكِينَ


"Katakanlah: Inilah jalanku, aku mengajak kepada Allah dengan bashīrah (keyakinan dan pemahaman yang jelas), aku dan orang-orang yang mengikutiku. Mahasuci Allah, dan aku bukanlah termasuk orang-orang musyrik."

(QS. Yūsuf: 108)


Ayat ini menunjukkan bahwa seruan kepada kebenaran harus berdasarkan bashīrah, bukan sekadar ikut-ikutan atau fanatisme buta.


Bashīrah Memandu Makna di Balik Masalah

"Jiwa yang bashīrahnya keren bukan yang bebas masalah, tapi yang mengetahui cara memaknai setiap masalah."


Setiap orang pasti diuji. Tapi orang yang memiliki bashīrah akan mampu menyelami makna ujian dan tidak tenggelam dalam keluhan. Ia tahu bahwa ujian adalah bagian dari proses pendewasaan ruhani.


Rasulullah ﷺ bersabda:


اتَّقُوا فِرَاسَةَ الْمُؤْمِنِ، فَإِنَّهُ يَنْظُرُ بِنُورِ اللَّهِ


"Takutlah terhadap firasat (ketajaman bashīrah) orang mukmin, karena sesungguhnya ia melihat dengan cahaya dari Allah."

(HR. Tirmidzi – 3127, dinilai hasan)


Penutup: Hidupkan Bashīrah, Tajamkan Hati

Di dunia yang penuh tipu daya ini, bashīrah adalah anugerah yang menjaga kita dari terjerumus. Maka jagalah kebersihan hati, karena bashīrah hanya hidup dalam hati yang bersih dari kesombongan, dengki, dan cinta dunia yang berlebihan.

  • Jangan hanya sibuk memperjelas pandangan mata.
  • Tapi tajamkan juga penglihatan jiwa.

Karena cahaya Allah hanya menerangi hati yang bersih dan bashīrah yang hidup.