23/09/2023

Pendaftaran Peserta Didik Baru Tahun Pelajaran 2024/2025 PONPES MODERN AL-HIKMAH MBS CEPU

 


 ASSALAMUALAIKUM WARAHMATULLAHI WABARAKATUH

Bismillahirrahmanirrahim

KEPADA BAPAK / IBU YANG MAU MENDAFTAR ONLINE UNTUK PUTRA / PUTRINYA KE PONDOK PESANTREN AL-HIKMAH MBS CEPU HARUS MENTRANFER DANA PENDAFTARAN SEBESAR RP. 200.000 KE NO REKENING  

BRI         ( 587-6010-13-766530 ) A/N : SLAMET SYAMSUDIMAN


FORMAT YANG WAJIB DI UNGGAH SAAT PENDAFTARAN ONLINE :

1. FOTO / BUKTI PEMBAYARAN YANG SUDAH DI TRANFER

FORMAT YANG HARUS DI BAWA KE PONPES MBS CEPU ( DI BERIKAN USAI MENDAFTAR ONLINE )  / MENYUSUL

  1. FOTO CALON SANTRI 3x4 ( 5 LEMBAR, BACKGROUD MERAH ) 
  2. FOTOCOPY IJAZAH LEGALISIR ( BAGI YANG SUDAH ADA )
  3. FOTOCOPY RAPORT SD/MI KELAS 6 SEMESTER 1 DI LEGALISIR)
  4. FOTOCOPY AKTA KELAHIRAN
  5. FOTOCOPY KK (KARTU KELUARGA)
  6. BUKTI PEMBAYARAN PENDAFTARAN ONLINE ( UNTUK DI COCOKAN )

JIKA SUDAH SIAP SILAHKAN KLIK LINK DAFTAR SEKARANG ATAU SCAN BARCODE DI BAWAH INI.

https://s.id/pendaftaransantriMBS2024-2025



JIKA ADA KENDALA SILAHKAN HUBUNGI :
CP Panitia PSB : 
 +62 888 0207 0300 
+62 895 2367 5959

22/09/2023

Perilaku Durhaka pada Orangtua

 



SPIRIT MBS CEPU ๐ŸŒป

        Durhaka dalam bahasa Arab disebut dengan al-'uquuq, berasal dari al-'aqqu yang satu akar kata dengan al-qath'u yang berarti memutus, merobek, membelah atau memotong. Adapun anak durhaka dalam Islam disebut dengan "uquuqul walidain". Yakni perbuatan atau ucapan yang bisa menyakiti hati dan memutus hubungan orang tua.

        Dalam Islam, durhaka kepada orang tua termasuk ke dalam kategori dosa besar. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam hadits Nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari. Dari Abdullah bin 'Amr, ia berkata: Ada seorang Arab Badui yang datang kepada Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam dan berkata, "Wahai Rasulullah, apakah dosa besar itu?". Lalu Rasulullah menjawab, "Isyrak (menyekutukan Allah)". Lalu orang Badui tersebut tanya lagi, "Kemudian apa?" Beliau menjawab, "Kemudian durhaka kepada dua orang tua,". Ia bertanya lagi, "Kemudian apa?" Rasulullah menjawab, "Sumpah yang menjerumuskan". Aku bertanya, "Apa sumpah yang menjerumuskan itu?" Rasulullah kemudian menjawab, "Sumpah yang menjadikan dia mengambil harta seorang muslim". (Hadits Riwayat Bukhari).

        Orangtua telah melakukan banyak pengorbanan untuk membesarkan kita. Dari bayi hingga kita dewasa, betapa banyak peluh dan lelah yang mereka habiskan. Tentu hal ini tak cukup menjadi alasan kita untuk berbuat baik pada orang tua. Menjadi anak yang baik adalah kewajiban. Nah, supaya kita tidak dicap sebagai golongan anak yang durhaka, maka hindari beberapa hal di bawah ini ya.

1. Bermuka masam, cemberut dan membentak orangtua.

            Jangan suka memasang muka masam (cemberut) atau kesal kepada orangtua hanya karena tidak suka mendengar nasehatnya. Orangtua selalu memberikan yang terbaik untuk anak-anaknya dan nasehat yang mereka berikan juga untuk kebaikan diri kita sendiri. Bahkan, seorang anak dilarang untuk mengeluarkan kata-kata yang menyakiti hati orang tuanya. 

            Jangan lukai hati orangtua dengan bentakan kita seberapa pun kekesalan kita pada orangtua karena sesuatu hal, namun jangan pernah meninggikan suara kita di atas suara mereka. Sedikit saja teriakan kemarahan dan bentakan kita mampu membuat hatinya sangat  hancur dan sudah dipastikan Allah pasti akan memurkai kita. Jangankan bentakan, suara mendesis seperti "cis" atau pun "ah" itu  sudah termasuk bentuk kedurhakaan. Larangan berkata 'ah' ini terdapat dalam QS. Al Isra ayat 23 sebagai berikut


۞ ูˆَู‚َุถَู‰ٰ ุฑَุจُّูƒَ ุฃَู„َّุง ุชَุนْุจُุฏُูˆุٓง۟ ุฅِู„َّุข ุฅِูŠَّุงู‡ُ ูˆَุจِูฑู„ْูˆَٰู„ِุฏَูŠْู†ِ ุฅِุญْุณَٰู†ًุง ۚ ุฅِู…َّุง ูŠَุจْู„ُุบَู†َّ ุนِู†ุฏَูƒَ ูฑู„ْูƒِุจَุฑَ ุฃَุญَุฏُู‡ُู…َุข ุฃَูˆْ ูƒِู„َุงู‡ُู…َุง ูَู„َุง ุชَู‚ُู„ ู„َّู‡ُู…َุข ุฃُูٍّ ูˆَู„َุง ุชَู†ْู‡َุฑْู‡ُู…َุง ูˆَู‚ُู„ ู„َّู‡ُู…َุง ู‚َูˆْู„ًุง ูƒَุฑِูŠู…ًุง


Artinya: "Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan "ah" dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia". 

Menurut Imam Ibnu Jarir Ath-Thabari rahimahullah bahwa yang dimaksud dengan ayat di atas,

ูู„ุง ุชุคูู ู…ู† ุดูŠุก ุชุฑุงู‡ ู…ู† ุฃุญุฏู‡ู…ุง ุฃูˆ ู…ู†ู‡ู…ุง ู…ู…ุง ูŠุชุฃุฐّู‰ ุจู‡ ุงู„ู†ุงุณ، ูˆู„ูƒู† ุงุตุจุฑ ุนู„ู‰ ุฐู„ูƒ ู…ู†ู‡ู…ุง، ูˆุงุญุชุณุจ ููŠ ุงู„ุฃุฌุฑ ุตุจุฑูƒ ุนู„ูŠู‡ ู…ู†ู‡ู…ุง، ูƒู…ุง ุตุจุฑุง ุนู„ูŠูƒ ููŠ ุตุบุฑูƒ

“Janganlah berkata ah, jika kalian melihat sesuatu dari salah satu atau sebagian dari keduanya yang dapat menyakiti manusia. Akan tetapi, bersabarlah dari mereka berdua. Lalu raihlah pahala dengan bersabar pada mereka sebagaimana mereka bersabar merawatmu kala kecil.” (Tafsir Ath-Thabari, 15:82)

Syaikh As-Sa’di rahimahullah berkata,


ู‡َุฐَุง ุฃَุฏْู†َู‰ ู…َุฑَุงุชِุจِ ุงู„ุฃَุฐَู‰ ู†ُุจِّู‡َ ุจِู‡ِ ุนَู„َู‰ ู…َุง ุณِูˆَุงู‡ُ ูˆَุงู„ู…ุนْู†َู‰ ูˆَู„ุงَ ุชُุคَุฐِّู‡ِู…َุง ุฃَุฏْู†َู‰ ุฃَุฐِูŠَّุฉٍ

“Ini adalah bentuk menyakiti orang tua yang paling ringan, hal ini diingatkan dari bentuk menyakiti lainnya. Maknanya adalah jangan sakiti keduanya walaupun itu dianggap ringan.” (Tafsir As-Sa’di, hlm. 479)

            Jadi kalau kita simpulkan, berkata 'ah' atau 'uff' merupakan bentuk perbuatan menyakiti perasaan orang tua termasuk durhaka (‘uquq walidain). 

                Imam Nawawi dalam Al-Minhaj Shahih Muslim (2:78) berkata, ”‘Uququl walidain atau durhaka kepada orang tua adalah:

ู…َุงูŠَุชَุฃَุฐَّู‰ ุจِู‡ِ ุงู„ูˆَุงู„ِุฏَ

“Segala bentuk menyakiti orang tua.”


2. Mencela dan mengumpat Terang-terangan 

             Mencela dan mengumpat orangtua juga termasuk perilaku durhaka, maka jangan sesekali membuat hati mereka sedih karena bila mereka sudah tidak ridho dengan kita sudah pasti Allah juga tidak akan meridhoi kita. Bayangkan bagaimana perasaan mereka, selama ini mereka telah berjasa di dalam hidup kita dan bersusah payah demi kita anak-anaknya,  sementara dengan mudahnya kita berlaku buruk pada mereka. 


ูˆَุนَู†ْ ุนَุจْุฏِ ุงَู„ู„َّู‡ِ ุจْู†ِ ุนَู…ْุฑِูˆ ุจْู†ِ ุงู„ْุนَุงุตِ -ุฑَุถِูŠَ ุงَู„ู„َّู‡ُ ุนَู†ْู‡ُู…َุง- ุฃَู†َّ ุฑَุณُูˆู„َ ุงَู„ู„َّู‡ِ – ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… – ู‚َุงู„َ: – ู…ِู†ْ ุงَู„ْูƒَุจَุงุฆِุฑِ ุดَุชْู…ُ ุงَู„ุฑَّุฌُู„ِ ูˆَุงู„ِุฏَูŠْู‡ِ. ู‚ِูŠู„َ: ูˆَู‡َู„ْ ูŠَุณُุจُّ ุงَู„ุฑَّุฌُู„ُ ูˆَุงู„ِุฏَูŠْู‡ِ? ู‚َุงู„َ: ู†َุนَู…ْ. ูŠَุณُุจُّ ุฃَุจَุง ุงَู„ุฑَّุฌُู„ِ, ูَูŠَุณُุจُّ ุฃَุจَุงู‡ُ, ูˆَูŠَุณُุจُّ ุฃُู…َّู‡ُ, ูَูŠَุณُุจُّ ุฃُู…َّู‡ُ – ู…ُุชَّูَู‚ٌ ุนَู„َูŠْู‡ِ

Dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Ash radhiyallahu ‘anhuma bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Termasuk dosa besar ialah seseorang memaki orang tuanya.” Ada seseorang bertanya, “Mungkinkah ada seseorang yang memaki orang tuanya sendiri?” Beliau bersabda, “Ya, ia memaki ayah orang lain, lalu orang lain memaki ayahnya dan ia memaki ibu orang lain, lalu orang itu memaki ibunya.” (Muttafaqun ‘alaih) [HR. Bukhari, no. 5973 dan Muslim, no. 90]

            Isi kandungan hadits itu adalah Hak orang tua harus benar-benar diperhatikan oleh kita sebagai anaknya.

            Kita sebagai anak tidak boleh menjadi sebab orang tua kita dicela orang lain. Ini termasuk dosa besar. Para sahabat radhiyallahu ‘anhum sangat berbakti dan berakhlak mulia di hadapan orang tuanya karena itu mereka sampai bertanya “Mungkinkah ada seseorang yang memaki orang tuanya sendiri ?” Ini bisa menjadi contoh buat kita.

            Hadits ini jadi dalil mengenai saddudz dzaraa-i’ (menutup pintu pada keharaman yang lebih parah), yaitu siapa yang akan mengarah kepada keharaman, maka hendaknya ia dicegah untuk melakukannya walaupun ia tidak memaksudkan melakukan yang haram tersebut. Di sini, Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang memulai mencela bapak orang lain, agar bapaknya tidak dibalas dicela orang. Walaupun di sini bukan maksudnya mencela bapaknya sendiri secara langsung. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ู„َุนَู†َ ุงู„ู„ู‡ُ ู…َู†ْ ุฐَุจَุญَ ู„ِุบَูŠْุฑِ ุงู„ู„ู‡ِ، ูˆَู„َุนَู†َ ุงู„ู„ู‡ُ ู…َู†ْ ุขูˆَู‰ ู…ُุญْุฏِุซًุง، ูˆَู„َุนَู†َ ุงู„ู„ู‡ُ ู…َู†ْ ู„َุนَู†َ ูˆَุงู„ِุฏَูŠْู‡ِ، ูˆَู„َุนَู†َ ุงู„ู„ู‡ُ ู…َู†ْ ุบَูŠَّุฑَ ุงู„ْู…َู†َุงุฑَ

“Allah melaknat orang yang menyembelih untuk selain Allah, Allah melaknat orang yang menyembunyikan (melindungi) penjahat, Allah melaknat orang yang melaknat kedua orang tuanya, dan Allah melaknat orang yang memindah (menggeser) batas (patok) tanah.” (HR. Muslim no. 1978)


3. Menelantarkan dan berlaku kasar terhadap orangtua. 

            Jika orangtua kita sudah mulai lanjut usia, maka sudah saatnya tugas kita  berbakti, balaslah jasa mereka karena pintu surga ada pada orangtua dan kesempatan kita untuk berbakti terbuka lebar. Mereka telah merawat kita dari kecil dan sekarang giliran kita berbakti pada mereka, jangan telantarkan mereka sendirian tanpa ada yang menjaga, atau bahkan membawa mereka ke Panti Jompo karena takut akan menyusahkan kita. Jangan tunggu penyesalan datang ketika mereka sudah tiada.

            Sudah banyak kejadian yang sering kita dengar berupa kekerasan fisik yang dilakukan seorang anak terhadap ibu atau ayahnya, ada yang tega memukul, menendang bahkan menghabisi nyawa orangtua yang berujung di jeruji besi. Tidak sepantasnya orang yang selama ini merawat kita dari kecil namun ketika kita besar malah melakukan perbuatan sangat tidak terpuji pada orangtua, di mana hati nurani kita ? Hadits tentang seperti itu diriwayatkan Ibnu Majah berikut ini:

ุงِู†َّ ุงู„ู„َّู‡َ ูŠูˆุตูŠูƒู… ุจุฃู…َّู‡ุงุชِูƒُู… ุซู„ุงุซًุง، ุฅู†َّ ุงู„ู„َّู‡َ ูŠูˆุตูŠูƒู… ุจุขุจุงุฆِูƒُู…، ุฅู†َّ ุงู„ู„َّู‡َ ูŠูˆุตูŠูƒู… ุจุงู„ุฃู‚ุฑَุจِ ูุงู„ุฃู‚ุฑَุจِ

Artinya :"sesungguhnya Allah berwasiat 3x kepada kalian untuk berbuat baik kepada ibu kalian, sesungguhnya Allah berwasiat kepada kalian untuk berbuat baik kepada ayah kalian, sesungguhnya Allah berwasiat kepada kalian untuk berbuat baik kepada kerabat yang paling dekat kemudian yang dekat" (HR. Ibnu Majah, shahih dengan syawahid-nya).

            Doa ibu sejati kepada anaknya tidak akan pernah putus. Seorang ibu sejati akan selalu setia mendoakan anaknya, dengan melakukan perbuatan dan akhlak yang baik akan  membuat seorang ibu bangga terhadap anaknya. Sehingga sudah seharusnya seorang anak berbakti kepada ibu dan ayahnya. 


4. Tidak patuh pada perintah orangtua

            Sering kita lihat atau bahkan ada yang sudah merasakan kejadian atau kesialan yang menimpa seorang anak yang tidak mau mendengar nasehat orangtuanya, kadang kesedihan orangtua atas perlakuan anak bisa menjadi bencana di masa hidupnya. Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

« ุฑَุบِู…َ ุฃَู†ْูُู‡ُ ุซُู…َّ ุฑَุบِู…َ ุฃَู†ْูُู‡ُ ุซُู…َّ ุฑَุบِู…َ ุฃَู†ْูُู‡ُ ». ู‚ِูŠู„َ ู…َู†ْ ูŠَุง ุฑَุณُูˆู„َ ุงู„ู„َّู‡ِ ู‚َุงู„َ « ู…َู†ْ ุฃَุฏْุฑَูƒَ ูˆَุงู„ِุฏَูŠْู‡ِ ุนِู†ْุฏَ ุงู„ْูƒِุจَุฑِ ุฃَุญَุฏَู‡ُู…َุง ุฃَูˆْ ูƒِู„َูŠْู‡ِู…َุง ุซُู…َّ ู„َู…ْ ูŠَุฏْุฎُู„ِ ุงู„ْุฌَู†َّุฉَ »

Artinya: “Sungguh terhina, sungguh terhina, sungguh terhina.” Ada yang bertanya, “Siapa, wahai Rasulullah?” Beliau bersabda, "(Sungguh hina) seorang yang mendapati kedua orangtuanya yang masih hidup atau salah satu dari keduanya ketika mereka telah tua, namun justru ia tidak masuk surga.” (HR. Muslim)

            Contohnya saja anak yang tidak mendapat restu menikah dari orangtua namun tetap memaksakan diri, lama kelamaan rumah tangga mereka menjadi  berantakan atau malah bercerai karena tidak ada keberkahan, dan contoh lain ada juga anak yang diam-diam berpacaran, padahal sudah dilarang, tiba-tiba di jalan mendapat musibah kecelakaan. Kejadian tersebut juga merupakan bentuk kemarahan Allah dalam bentuk musibah dan teguran. 

            Jadi, jangan pernah sakiti orangtua kita, karena salah satu akibat yang akan kita dapat di dunia yaitu adzab berupa hidup sengsara, tak selesai sampai di situ, kelak di akhirat kita akan  mendapat siksa serta diharamkan masuk surga karena durhaka pada orangtua termasuk dosa besar. Berbaktilah kepada orang tua untuk memanjangkan umur dan menambah rezeki kita.


ุนَู†ْ ุฃَู†َุณِ ุจْู†ِ ู…َุงู„ِูƒٍ ،ู‚َุงู„َ: ู‚َุงู„َ ุฑَุณُูˆู„ُ ุงู„ู„َّู‡ِ ุตَู„َّู‰ ุงู„ู„ู‡ُ ุนَู„َูŠْู‡ِ ูˆَุณَู„َّู…َ: «ู…َู†ْ ุฃَุญَุจَّ ุฃَู†ْ ูŠُู…َุฏَّ ู„َู‡ُ ูِูŠ ุนُู…ْุฑِู‡ِ، ูˆَุฃَู†ْ ูŠُุฒَุงุฏَ ู„َู‡ُ ูِูŠ ุฑِุฒْู‚ِู‡ِ، ูَู„ْูŠَุจَุฑَّ ูˆَุงู„ِุฏَูŠْู‡ِ، ูˆَู„ْูŠَุตِู„ْ ุฑَุญِู…َู‡ُ.

Artinya: “Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda; “Siapa yang ingin dipanjangkan umurnya dan ditambahkan rezkinya, maka hendaknya ia berbakti kepada kedua orang tuanya dan menyambug silaturrahim (kekerabatan).” (HR. Ahmad)


            Berbaktilah pada orangtua walau emas setinggi gunung pun takkan mampu membalas segala jasa mereka. Jika kita belum bisa membahagiakan orangtua, setidaknya jangan menyusahkan hidup mereka dengan perlakuan buruk kita !

21/09/2023

Hartamu Itu Hanyalah Titipan Allah




๐ŸŒป SPIRIT MBS AL HIKMAH CEPU (20.9) 2023๐ŸŒป

 Belanjakan hartamu pada saat kamu masih menguasainya (KH.A. Dahlan) 

 Islam sebagai Agama yang komprehensif tentu memiliki aturan untuk mengatur segala aspek kehidupan. Tidak hanya yang berbentuk Ibadah yang langsung berhubungan dengan Allah saja, akan tetapi juga dalam hal-hal yang bersifat muamalah. Lalu bagaimana pandangan Islam terhadap Harta? Konsep mengenai harta dan kepemilikan merupakan salah satu pokok bahasan yang sangat penting dalam Islam. 

 Harta atau dalam bahasa arab disebut al-maal secara bahasa berarti condong, cenderung atau miring. Sedangkan secara istilah diartikan sebagai segala sesuatu yang sangat diinginkan oleh manusia untuk menyimpan dan memilikinya. Adapun pemilik mutlak terhadap segala sesuatu yang ada di muka bumi ini, termasuk harta benda, adalah Allah SWT. Kepemilikan oleh manusia itu hanya relatif, yaitu sebatas untuk melaksanakan amanah mengelola dan memanfaatkan sesuai dengan ketentuan-Nya. Dalam Al-Qur’an hal ini sudah dijelaskan pada firman-Nya :

 ุงٰู…ِู†ُูˆุۡง ุจِุงู„ู„ّٰู‡ِ ูˆَุฑَุณُูˆูۡ„ِู‡ٖ ูˆَุงَู†ูۡِู‚ُูˆุۡง ู…ِู…َّุง ุฌَุนَู„َู€ูƒُู…ۡ ู…ُّุณุۡชَุฎูۡ„َูِูŠูۡ†َ ูِูŠูۡ‡ِ‌ؕ ูَุงู„َّุฐِูŠูۡ†َ ุงٰู…َู†ُูˆุۡง ู…ِู†ูۡƒُู…ۡ ูˆَุงَู†ูۡَู‚ُูˆุۡง ู„َู‡ُู…ۡ ุงَุฌุۡฑٌ ูƒَุจِูŠุۡฑٌ

 “Berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya dan nafkahkanlah sebagian dari hartamu yang Allah telah menjadikan kamu menguasainya. Maka, orang-orang yang beriman di antara kamu dan menafkahkan (sebagian) dari hartanya mendapatkan pahala yang besar.” (QS. al-Hadiid:7).

Dalam pandangan Islam status harta yang dimiliki manusia dapat dilihat dari berbagai sudut pandang, antara lain:

 Pertama, Harta itu sebagai amanah (titipan) dari Allah SWT. Kita manusia hanyalah pemegang amanah karena memang kita tidak mampu mengadakan benda dari yang tiada menjadi ada. Mengutip pendapat Einstein, manusia tidak mampu menciptakan energi; yang mampu manusia lakukan adalah mengubah dari satu bentuk energi ke bentuk energi lain. Pencipta awal segala energi adalah Allah SWT. Itulah sebabnya pada akhirnya ketika kita mati semua yang kita miliki akan kembali kepada-Nya. "Dari Anas bin Malik r.a. ia berkata bahwa Rasulullah saw. Bersabda : "Yang mengikuti mayit sampai ke kubur itu ada tiga hal, yang dua akan kembali, dan yang satu tetap bersamanya dikubur. Yang mengikutinya adalah keluarganya, hartanya dan amalnya. Yang kembali adalah keluarganya dan hartanya. Sedangkan yang tetap bersamanya dikubur adalah amalnya" (HR. Bukhari dan Muslim) 

 Kedua, Harta sebagai perhiasan hidup. Hal ini memungkinkan manusia untuk menikmatinya dengan baik dan tidak berlebih-lebihan. Itulah sebabnya harta menjadi magnet yang luar biasa bagi manusia, sehingga manusia memiliki kecenderungan yang kuat untuk memiliki, menguasai dan menikmati harta. Sebagaimana firman-Nya yang artinya: “Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).” (QS. Ali Imran: 14). 

 Ketiga, Harta sebagai bentuk ujian keimanan. Hal ini berkaitan dengan cara mendapatkan dan memanfaatkannya, apakah sesuai dengan ajaran Islam ataukah tidak. Allah SWT berfirman: “Dan Ketahuilah, bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan dan sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar.” (QS. al-Anfaal: 28). 

 Oleh karena itu, yang miskin jangan bersedih dan jangan sesali diri hanya karena kekurangan harta. Sebaliknya yang kaya janganlah bangga dan jangan membusungkan dada hanya karena kelebihan harta. Ingat, harta itu hanya bentuk ujian keimanan kita. Derajat manusia di sisi Allah bukan dilihat dari banyaknya harta, anak dan pengikut. Akan tetapi dimuliakan manusia di sisi Allah hanya karena taqwanya. 

 Keempat, Harta itu sebagai bekal ibadah. Harta yang digunakan untuk melaksanakan perintah-Nya dan muamalah di antara sesama manusia, melalui zakat, infak dan sedekah. Allah SWT berfirman: “Berangkatlah kamu baik dalam keadaan merasa ringan maupun berat, dan berjihadlah kamu dengan harta dan dirimu di jalan Allah. Yang demikian itu adalah lebih baik bagimu, jika kamu Mengetahui.” (QS. At-Taubah:41). Serta “Dan bersegeralah kamu menuju kepada ampunan dari Tuhanmu dan juga kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa. (Yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema’afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.” (QS. Ali Imran: 133–134). 

 Lalu bagaimana proses kepemilikan harta harus diperoleh secara benar ? Harta dapat dimiliki melalui usaha (a’mal) atau mata pencaharian (ma’isyah) yang halal dan sesuai dengan aturan-Nya. Banyak ayat Al-Qur’an dan hadits nabi yang mendorong umat Islam mencari nafkah secara halal. Misalnya dalam al-Qur’an Allah SWT berfirman yang artinya: “Hai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah (di jalan Allah) sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik…” (Al-Baqarah:267). 

 Dan juga hadits Nabi Saw.: “Sesungguhya Allah mencintai hamba-Nya yang bekerja. Barang siapa yang bekerja keras mencari nafkah yang halal untuk keluarganya maka ia sama seperti mujahid di jalan Allah.” (HR Ahmad). 

 Oleh karena itu, kita dilarang mencari harta, berusaha, atau bekerja yang dapat melupakan kematian, melupakan dzikrullah (tidak ingat kepada Allah dengan segala ketentuan-Nya), melupakan shalat dan zakat, serta memusatkan kekayaan hanya pada sekelompok orang kaya saja. Sebagaimana firman Allah SWT yang artinya: “Bermegah-megahan telah melalaikan kamu. Sampai kamu masuk ke dalam kubur.” (QS. At-Takaatsur: 1–2). 

 Harta yang diperoleh dengan susah payah lalu hanya ditumpuk dan disimpan saja serta tidak disedekahkan akan menjadi ular lalu memakan orang yang menumpuk hartanya itu. Syekh Maulana Muhammad Zakariyya Al Kandahlawi dalam kitabnya Fadhilah Sedekah, menerangkan hal tersebut merujuk pada kitab Shahih Bukhari disebutkan tentang hadits Rasulullah SAW.

 ูˆَู„َุง ุตَุงุญِุจِ ูƒَู†ْุฒٍ ู„َุง ูŠَูْุนَู„ُ ูِูŠู‡ِ ุญَู‚َّู‡ُ ุฅِู„َّุง ุฌَุงุกَ ูƒَู†ْุฒُู‡ُ ูŠَูˆْู…َ ุงู„ْู‚ِูŠَุงู…َุฉِ ุดُุฌَุงุนًุง ุฃَู‚ْุฑَุนَ ูŠَุชْุจَุนُู‡ُ ูَุงุชِุญًุง ูَุงู‡ُ ูَุฅِุฐَุง ุฃَุชَุงู‡ُ ูَุฑَّ ู…ِู†ْู‡ُ ูَูŠُู†َุงุฏِูŠู‡ِ ุฎُุฐْ ูƒَู†ْุฒَูƒَ ุงู„َّุฐِูŠ ุฎَุจَุฃْุชَู‡ُ ูَุฃَู†َุง ุนَู†ْู‡ُ ุบَู†ِูŠٌّ ูَุฅِุฐَุง ุฑَุฃَู‰ ุฃَู†ْ ู„َุง ุจُุฏَّ ู…ِู†ْู‡ُ ุณَู„َูƒَ ูŠَุฏَู‡ُ ูِูŠ ูِูŠู‡ِ ูَูŠَู‚ْุถَู…ُู‡َุง ู‚َุถْู…َ ุงู„ْูَุญْู„ِ

 “Tidaklah pemilik harta simpanan yang tidak melakukan haknya padanya, kecuali harta simpanannya akan datang pada hari kiamat sebagai seekor ular jantan aqra’ yang akan mengikutinya dengan membuka mulutnya. Jika ular itu mendatanginya, pemilik harta simpanan itu lari darinya. Lalu ular itu memanggilnya, “Ambillah harta simpananmu yang telah engkau sembunyikan! Aku tidak membutuhkannya.” Maka ketika pemilik harta itu melihat, bahwa dia tidak dapat menghindar darinya, dia memasukkan tangannya ke dalam mulut ular tersebut. Maka ular itu memakannya sebagaimana binatang jantan memakan makanannya”. [HR Muslim no. 988] 

 Setelah itu, Rasulullah membaca surat Ali Imran ayat 180.

" ูˆَู„َุง ูŠَุญْุณَุจَู†َّ ุงู„َّุฐِูŠู†َ ูŠَุจْุฎَู„ُูˆู†َ ุจِู…َุง ุขุชَุงู‡ُู…ُ ุงู„ู„َّู‡ُ ู…ِู†ْ ูَุถْู„ِู‡ِ ู‡ُูˆَ ุฎَูŠْุฑًุง ู„َู‡ُู…ْ ۖ ุจَู„ْ ู‡ُูˆَ ุดَุฑٌّ ู„َู‡ُู…ْ ۖ ุณَูŠُุทَูˆَّู‚ُูˆู†َ ู…َุง ุจَุฎِู„ُูˆุง ุจِู‡ِ ูŠَูˆْู…َ ุงู„ْู‚ِูŠَุงู…َุฉِ ۗ ูˆَู„ِู„َّู‡ِ ู…ِูŠุฑَุงุซُ ุงู„ุณَّู…َุงูˆَุงุชِ ูˆَุงู„ْุฃَุฑْุถِ ۗ ูˆَุงู„ู„َّู‡ُ ุจِู…َุง ุชَุนْู…َู„ُูˆู†َ ุฎَุจِูŠุฑٌ 

 "Dan sekali-kali janganlah orang-orang yang bakhil dengan harta yang Allah berikan kepada mereka dari karunia-Nya menyangka bahwa kebakhilan itu lebih baik bagi mereka. Sebenarnya kebakhilan itu buruk bagi mereka. Harta yang mereka bakhilkan itu akan dikalungkan di leher mereka kelak pada hari kiamat. Dan kepunyaan Allah segala warisan yang ada dilangit dan di bumi. Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan."

 Marilah kita belanjakan harta pemberian Allah ini secara baik selagi kita masih nenguasainya. Jangan sampai timbul penyesalan yang panjang pada diri kita dengan mengatakan, "ya Allah, seandainya Engkau berikan kepada kami kesempatan hidup sekali lagi, pasti kami akan bersedekah dengan harta kami". Inilah bentuk penyesalan hidup yang tiada akan berakhir

18/09/2023

SPIRIT DAKWAH MBS CEPU

 ๐ŸŒป SPIRIT SMP MBS AL HIKMAH CEPU (Slmt sy) 19/09/2023๐ŸŒป


*Hati-hati Menggunakan Waktu*


*"Berhati-hatilah kamu sekalian dalam mempergunakan waktu selama hidupmu"* (KHA. Dahlan)


“Waktu ibarat pedang, jika engkau tidak menebasnya maka ialah yang menebasmu. Kalimat itu merupakan kutipan dari ucapan Imam Syafi’i Rahimahullah, Dan jiwamu jika tidak kau sibukkan di dalam kebenaran maka ia akan menyibukkanmu dalam kebatilan”. Kalimat tadi menunjukkan betapa pentingnya manusia mengelola waktu yang dimilikinya. Sesuatu yang mudah diucapkan tetapi sulit untuk diterapkan oleh diri ini atau mungkin oleh sebagian besar manusia adalah memanfaatkan waktu.  


Banyak sekali hal yang sudah kita rencanakan tetapi batal dilakukan hanya gara-gara kita tidak pandai memanfaatkan waktu. Padahal waktu tidak akan pernah kembali, waktu tidak pernah bisa diputar kembali. Membiarkan waktu terbuang sia-sia dengan anggapan esok masih ada waktu merupakan salah satu tanda tidak memahami pentingnya waktu.


Menurut KBBI, waktu adalah seluruh rangkaian saat ketika proses, perbuatan, atau keadaan berada atau berlangsung, tidak seorang pun tahu apa yang akan terjadi pada waktu yang akan datang. Ya, tidak kita atau siapapun dapat mendahului sang Maha Pengatur Waktu. Yang dapat kita perbuat hanyalah menjadikan hadiah Tuhan ini bermanfaat. Jika tidak untuk orang lain, setidaknya bermanfaat bagi diri kita sendiri.


Waktu merupakan anugerah Allah Swt dan kita manusia tidak akan pernah bisa mengaturnya. Yang bisa kita lakukan terhadap waktu adalah memanfaatkannya dengan sebaik-baiknya. Sebab, waktu yang hilang tidak mungkin dapat terulang kembali. Jika kesempatan sudah terlewat walau hanya sedetik, niscaya penyesalan yang akan datang kemudian. Meski jelas bahwa Allah lah yang mengatur waktu, menciptakan siang dan malam, tetapi ada kalanya manusia mengeluh dengan waktu yang dilewatinya. Misalnya, ada yang berkata, "Hari ini sungguh sial bagi saya." Atau, "Hari ini tidak seperti hari kemarin, kok jadi gini nasib saya." Sebab, dalam sebuah hadits disebutkan, bahwa Rasulullah saw bersabda, 


ู‚َุงู„َ ุงู„ู„َّู‡ُ ุนَุฒَّ ูˆَุฌَู„َّ ูŠُุคْุฐِูŠู†ِู‰ ุงุจْู†ُ ุขุฏَู…َ ูŠَู‚ُูˆู„ُ ูŠَุง ุฎَูŠْุจَุฉَ ุงู„ุฏَّู‡ْุฑِ. ูَู„ุงَ ูŠَู‚ُูˆู„َู†َّ ุฃَุญَุฏُูƒُู…ْ ูŠَุง ุฎَูŠْุจَุฉَ ุงู„ุฏَّู‡ْุฑِ. ูَุฅِู†ِّู‰ ุฃَู†َุง ุงู„ุฏَّู‡ْุฑُ ุฃُู‚َู„ِّุจُ ู„َูŠْู„َู‡ُ ูˆَู†َู‡َุงุฑَู‡ُ ูَุฅِุฐَุง ุดِุฆْุชُ ู‚َุจَุถْุชُู‡ُู…َุง


”Allah ’Azza wa Jalla berfirman, ’Aku disakiti oleh anak Adam. Dia mengatakan ’Ya khoybah dahr’ [ungkapan mencela waktu,]. Janganlah seseorang di antara kalian mengatakan ’Ya khoybah dahr’ (dalam rangka mencela waktu). Karena Aku adalah (pengatur) waktu. Aku-lah yang membalikkan malam dan siang. Jika suka, Aku akan menggenggam keduanya.” (HR. Muslim no. 6001)


Sementara itu Imam Syafii pernah mengatakan pendapatnya tentang waktu, "Kita mencela zaman kita, padahal celaan itu ada pada diri kita sendiri. Dan zaman kita tidaklah memiliki aib atau celaan kecuali kita sendiri." Maksud dari riwayat-riwayat di atas adalah bahwa sejatinya waktu tidak pernah berubah, pasti ada siang dan ada malam. Hanya saja, perubahan yang terjadi misalnya tahun 2023 ini berbeda dengan tahun 2022 lalu adalah karena adanya perubahan yang ada pada diri setiap manusia. Ada yang di tahun sebelumnya belum menikah, lalu di tahun sekarang sudah menikah, maka tahun yang dilalui pasti akan berbeda karena peran seseorang itu, bukan karena tahunnya.


Dengan demikian dapat kita simpulkan bahwa sebaiknya kita tidak perlu mencela dan mengeluh akan waktu, tetapi justru memanfaatkan waktu untuk hal-hal yang lebih baik lagi. Hari ini harus lebih baik dari hari kemarin, dan hari besok harus lebih baik dari hari ini.


Penting untuk diketahui bagaimana 'waktu' menurut al-Qur'an bahwa waktu terus berputar dan berlalu tanpa pernah kembali. Dengan demikian, waktu mempunyai tabiat sebagai berikut: 


*1. Waktu Cepat Berlalu*. Sekilas ungkapan di atas sangat sederhana akan tetapi faktanya banyak orang mengetahui akan tetapi tidak mewaspadainya. Jika seseorang mencoba merenungi tentang waktu yang sudah terlewati, maka waktu sangat cepat berlalu, terkadang tidak disadari bahwa usia seseorang terus bertambah dua puluh tahun, tiga puluh tahun, empat puluh tahun, lima puluh tahun dan seterusnya. 

Dengan demikian, al-Qur’an menegaskan hal tersebut ketika ia menggambarkan di antara fenomena hari kebangkitan nanti. Allah swt. berfirman dalam Q.S. al-Nazi’at 79: 46: 


ูƒَุงَู†َّู‡ُู…ۡ ูŠَูˆูۡ…َ ูŠَุฑَูˆูۡ†َู‡َุง ู„َู…ۡ ูŠَู„ุۡจَุซُูˆุۡۤง ุงِู„َّุง ุนَุดِูŠَّุฉً ุงَูˆۡ ุถُุญٰูฎู‡َุง


Artinya: Pada hari mereka melihat hari berbangkit itu, mereka merasa seakan-akan tidak tinggal (di dunia) melainkan (sebentar saja) di waktu sore atau pagi hari. 


Al-Samarqandiy ketika menafsirkan ayat tersebut mengatakan bahwa orang-orang yang kufur kepada Allah swt. merasa bahwa hidup di dunia cuma sekitar setengah hari, baik di sore hari atau pagi hari.

Beda halnya dengan Abu Hayyan yang mengatakan bahwa ‘asyiyyah adalah satu hari sedangkan duha adalah setengah hari. Menurutnya orang-orang kafir merasa hidup di dunia paling lama adalah sehari bahkan terasa cuma setengah hari.

Senada dengan Abu Hayyan, Ibn Kasir berpendapat bahwa ungkapan tersebut akan keluar jika mereka dibangkitkan dari alam kubur dan digiring ke padang mahsyar, mereka kemudian menganggap masa kehidupan dunia sangat singkat, seakan-akan masanya hanya sehari atau setengah hari 


Ayat di atas kemudian diperkuat oleh ayat lain terkait dengan waktu yang sangat singkat dalam kehidupan dunia ini sebagaimana dalam Q.S. Yunus 10: 45. 


ูˆَูŠَูˆูۡ…َ ูŠَุญุۡดُุฑُู‡ُู…ۡ ูƒَุงَู†ۡ ู„َّู…ۡ ูŠَู„ุۡจَุซُูˆุۡۤง ุงِู„َّุง ุณَุงุนَุฉً ู…ِّู†َ ุงู„ู†َّู‡َุงุฑِ ูŠَุชَุนَุงุฑَูُูˆูۡ†َ ุจَูŠูۡ†َู‡ُู…ۡ‌ؕ ู‚َุฏۡ ุฎَุณِุฑَ ุงู„َّุฐِูŠูۡ†َ ูƒَุฐَّุจُูˆุۡง ุจِู„ِู‚َุงุٓกِ ุงู„ู„ّٰู‡ِ ูˆَู…َุง ูƒَุงู†ُูˆุۡง ู…ُู‡ุۡชَุฏِูŠูۡ†َ


Artinya: Dan (ingatlah) pada hari (ketika) Allah mengumpulkan mereka, (mereka merasa) seakan-akan tidak pernah berdiam (di dunia) kecuali sesaat saja pada siang hari, (pada waktu) mereka saling berkenalan. Sungguh rugi orang yang mendustakan pertemuan mereka dengan Allah dan mereka tidak mendapat petunjuk.


*2. Waktu Tidak Akan Kembali*. Waktu yang sudah berlalu tidak mungkin kembali lagi. Setiap tahun yang telah berlalu, bulan yang lalu, pekan yang lalu, bahkan menit yang lalu, tidak mungkin bisa dikembalikan sekarang. Inilah yang pernah disampaikan olah al-Hasan al-Basriy: “Tidak ada satu haripun yang menampakkan fajarnya kecuali ia akan menyeru “Wahai anak Adam, aku adalah harimu yang baru, yang akan menjadi saksi atas amalmu, maka carilah bekal dariku, karena jika aku telah berlalu aku tidak akan kembali lagi hingga Hari Kiamat.” 


*3. Aset Yang Berharga* Tabiat waktu di antaranya adalah waktu merupakan aset paling berharga. Ketika waktu adalah sesuatu yang tidak bisa kembali dan tidak bisa tergantikan, maka waktu adalah aset yang paling mahal bagi manusia. Siapa tak kenal pepatah, “Time is Money.” ? Sedemikian berharganya sang waktu, sehingga bila kita tidak memanfaatkannya dengan baik, maka sama saja dengan membuang uang. Dan mahalnya nilai sebuah waktu lantaran ia adalah wadah bagi setiap amal dan produktivitas. Waktu adalah modal utama bagi individu maupun masyarakat. Al-Hasan al-Basriy pernah berkata: “Saya melihat ada segolongan manusia yang memberikan perhatian kepada waktu lebih daripada perhatian kalian terhadap dirham dan dinar”. Waktu tidak bisa dihargai dengan uang, seperti kata pepatah. Karena waktu lebih berharga dari uang, lebih berharga dari emas, harta dan kekayaan. Waktu adalah kehidupan itu sendiri. Karena kehidupan bagi seseorang adalah waktu dan detik-detik yang dijalaninya mulai ia lahir hingga wafat kemudian. Dalam sebuah hadits disebutkan tentang pemanfaatan waktu.


ุนู† ุฌุงุจุฑ ุจู† ุนุจุฏ ุงู„ู„ู‡ -ุฑุถูŠ ุงู„ู„ู‡ ุนู†ู‡ู…ุง- ู‚ุงู„: ุฎุทุจู†ุง ุฑุณูˆู„ ุงู„ู„ู‡ -ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู…- ูู‚ุงู„: «ูŠุง ุฃูŠู‡ุง ุงู„ู†ุงุณ ุชูˆุจูˆุง ุฅู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ู‚ุจู„ ุฃู† ุชู…ูˆุชูˆุง، ูˆุจุงุฏِุฑูˆุง ุจุงู„ุฃุนู…ุงู„ ุงู„ุตุงู„ุญุฉ ู‚ุจู„ ุฃู† ุชُุดْุบَู„ูˆุง، ูˆุตِู„ُูˆุง ุงู„ุฐูŠ ุจูŠู†ูƒู… ูˆุจูŠู† ุฑุจูƒู… ุจูƒุซุฑุฉ ุฐِูƒุฑูƒู… ู„ู‡، ูˆูƒุซุฑุฉ ุงู„ุตุฏู‚ุฉ ููŠ ุงู„ุณุฑ ูˆุงู„ุนู„ุงู†ูŠุฉ، ุชُุฑْุฒู‚ูˆุง ูˆุชُู†ْุตุฑูˆุง ูˆุชُุฌْุจَุฑูˆุง،.... 

ูˆุงุนู„ู…ูˆุง ุฃู† ุงู„ู„ู‡ ู‚ุฏ ุงูุชุฑุถ ุนู„ูŠูƒู… ุงู„ุฌู…ุนุฉ ููŠ ู…ู‚ุงู…ูŠ ู‡ุฐุง، ููŠ ูŠูˆู…ูŠ ู‡ุฐุง، ููŠ ุดู‡ุฑูŠ ู‡ุฐุง، ู…ู† ุนุงู…ูŠ ู‡ุฐุง ุฅู„ู‰ ูŠูˆู… ุงู„ู‚ูŠุงู…ุฉ، ูู…ู† ุชุฑูƒู‡ุง ููŠ ุญูŠุงุชูŠ ุฃูˆ ุจุนุฏูŠ، ูˆู„ู‡ ุฅู…ุงู… ุนุงุฏู„ ุฃูˆ ุฌุงุฆِุฑ، ุงุณุชِุฎْูุงูุง ุจู‡ุง، ุฃูˆ ุฌُุญُูˆุฏุง ู„ู‡ุง، ูู„ุง ุฌู…ุน ุงู„ู„ู‡ ู„ู‡ ุดَู…ْู„ู‡، ูˆู„ุง ุจุงุฑูƒ ู„ู‡ ููŠ ุฃู…ุฑู‡، ุฃู„َุง ูˆู„ุง ุตู„ุงุฉ ู„ู‡، ูˆู„ุง ุฒูƒุงุฉ ู„ู‡، ูˆู„ุง ุญุฌ ู„ู‡، ูˆู„ุง ุตูˆู… ู„ู‡، ูˆู„ุง ุจِุฑَّ ู„ู‡ ุญุชู‰ ูŠุชูˆุจ، ูู…ู† ุชุงุจ ุชุงุจ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡، ุฃู„ุง ู„ุง ุชُุคู…َّู† ุงู…ุฑุฃุฉ ุฑุฌู„ุง، ูˆู„ุง ูŠَุคُู… ุฃุนุฑุงุจูŠ ู…ُู‡ุงุฌุฑุง، ูˆู„ุง ูŠุคู… ูุงุฌุฑ ู…ุคู…ู†ุง، ุฅู„ุง ุฃู† ูŠَู‚ْู‡ุฑู‡ ุจุณู„ุทุงู†، ูŠุฎุงู ุณูŠูู‡ ูˆุณَูˆْุทู‡»

.

Jฤbir bin Abdillah -raแธiyallฤhu 'anhumฤ- memberitahukan bahwa Rasulullah -แนฃallallฤhu 'alaihi wa sallam- pernah berkhotbah di hadapan mereka, beliau bersabda, "Wahai manusia, bertobatlah kepada Allah sebelum kalian meninggal, bersegeralah untuk melakukan amal saleh sebelum kalian disibukkan dengan sakit, usia lanjut atau yang lainnya. Sambunglah antara kalian dan Rabb kalian dengan memperbanyak berzikir, banyak bersedekah secara sembunyi atau terang-terangan, niscaya Allah akan memberi kalian rezeki yang luas, menolong kalian terhadap musuh-musuh kalian serta memperbaiki seluruh kondisi kalian....

Ketahuilah, sesungguhnya Allah telah mewajibkan kepada kalian shalat Jumat di tempat berdiriku ini, di hariku ini, di bulanku ini dari tahunku ini hingga hari kiamat. Barangsiapa meninggalkannya di waktu hidupku atau setelahku, dan dia memiliki imam yang adil atau zalim, karena meremehkan atau mengingkari kewajibannya, maka Allah tidak akan menyatukan urusannya yang tercerai-berai dan usahanya tidak akan diberkahi. Tidak ada shalat, tidak ada zakat, tidak ada haji, tidak ada puasa, dan tidak ada amal kebaikan baginya hingga ia bertobat. Maka barangsiapa bertobat, Allah akan menerima tobatnya. Kemudian beliau melarang seorang perempuan untuk mengimami laki-laki, atau orang badui mengimami seorang muhajir, karena dari karakter orang badui adalah tidak berilmu dan karakter seorang muhajir adalah berilmu, dan melarang orang fasik untuk mengimami orang Mukmin, kecuali jika ia memaksanya dengan kekuasaan yang ia khawatir akan keselamatan dirinya. (HR. Ibnu Majah)