28/10/2023

Mengapa Kita Mencintai Allah Swt.


 ๐ŸŒปSPIRIT MBS AL HIKMAH CEPU (27 OKT) 2023๐ŸŒป


Apa itu cinta? Istilah cinta mungkin sudah sering didengar bahkan pernah dirasakan oleh setiap orang dalam berbagai bentuk. Makna cinta berdasarkan hierarki emosi dan perasaan disebut memiliki kedudukan di atas rasa sayang. Sebab, prosesnya seperti investasi yaitu dipupuk dari rasa suka kemudian berkembang menjadi rasa cinta. Rasa cinta ini mencakup berbagai keadaan emosional atau perasaan, yang ditandai dengan keintiman, gairah, komitmen, kedekatan, daya tarik, kasih sayang, dan kepercayaan. Karenanya, definisi cinta yang ditawarkan Al-Ghazali adalah:


   ุงู„ุญُุจُّ ุนِุจุงุฑَุฉٌ ุนَู†ْ ู…َูŠْู„ِ ุงู„ุทَّุจْุนِ ุฅِู„ู‰َ ุงู„ุดَّูŠْุกِ ุงู„ู…ُู„َุฐِّ 


Artinya, “Cinta adalah ungkapan dari ketertarikan watak terhadap sesuatu yang dianggap lezat.” (Al-Ghazali, Ihyรข’ Ulรปmiddรฎn, juz IV, halaman 296).


Dengan cinta orang akan lebih semangat dan ikhlas untuk melakukan setiap sesuatu yang disenangi oleh yang dicinta. Dengan cinta pula, ia tidak lagi bertanya mengapa dan bagaimana, karena semuanya dilakukan atas dasar cinta yang sudah melebihi segalanya. Karenanya, seharusnya cinta diberikan pada pihak yang memang berhak mendapatkan cinta dan layak untuk dicinta. Siapakah dia? Menurut Imam Al-Ghazali, tidak ada yang berhak untuk dicinta kecuali hanya Allah Ta’ala. Jika ada seorang hamba meletakkan cintanya kepada selain Allah, itu menunjukkan bahwa cintanya muncul karena kebodohan dan sempitnya pengetahuan terhadap Allah. Jika ia benar-benar mengetahui sifat-sifat Allah, tentu ia tidak akan memperdulikan manusia dan fokus mencintai Allah Dzat Yang Mahakuasa.


Dia-lah Yang Maha Suci untuk diibadahi dengan rasa takut (khauf), berharap (raja’) dan cinta (mahabbah). Tiga rasa ini tidak boleh ada yang hilang salah satunya, ketiganya harus komplet ada pada diri si penghamba. Mencintai Allah subhanahu wa ta’ala yang selanjutnya kita sebut dengan mahabbatullah, bagaimanakah hakikatnya? Apakah diri kita sudah mencintai-Nya dengan semestinya ? Ataukah diri kita malah tenggelam dalam mengejar cinta makhluk atau kalbu kita disesaki dengan mabuk cinta kepada makhluk sehingga tidak tersisa lagi tempat untuk-Nya?


Jujur harus kita akui, kebanyakan dari umur kita telah kita lalui dengan pembicaraan tentang cinta kepada makhluk dan ambisi untuk beroleh cinta makhluk. Ketika cinta kita kepada si makhluk bertepuk sebelah tangan, gayung tiada bersambut, patahlah hati kita, serasa sesak dada kita. Demikianlah cinta dan mencinta makhluk, kita bisa “sakit” karenanya.


Adapun cinta yang selama ini sering kita abaikan dan terluputkan dari pikiran kita, padahal Dia merupakan cinta teragung, sungguh tiada membekaskan sakit yang melukai kalbu. Itulah cinta kita kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Tidak akan patah arang seorang hamba yang mencintai-Nya ketika mengejar cinta-Nya. Karena siapa yang jujur dalam cintanya, Allah subhanahu wa ta’ala pasti akan membalas cintanya. Sebuah cinta yang berbuah kemanisan, kelapangan, dan kebahagiaan di dunia dan terlebih lagi di akhirat kelak.


Mahabatullah adalah sebuah kelaziman bagi yang mengaku beriman kepada-Nya, baik dia lelaki maupun perempuan. Bahkan cinta ini termasuk syarat Laa ilaaha illlallah dan merupakan asas atau landasan dalam beramal. (ad-Da’u wa ad-Dawa’, Ibnul Qayyim, hlm. 303) 


Yang namanya cinta dan mencintai-Nya bukanlah sekadar pengakuan lisan atau ucapan di bibir saja, namun harus sebagaimana yang dinyatakan-Nya dalam tanzil-Nya, *"Katakanlah (ya Muhammad), “Jika benar-benar kalian mencintai Allah, maka ikutilah aku, niscaya Allah akan mencintai kalian dan mengampuni dosa-dosa kalian….”* (Ali Imran: 31)


Kata al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah, “Ayat yang mulia ini merupakan hakim pemutus (yang memberikan penghukuman) bagi setiap orang yang mengaku mencintai Allah subhanahu wa ta’ala, sementara orang itu tidak di atas thariqah muhammadiyah (yaitu jalan yang ditempuh oleh Rasul Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam). Orang itu dusta dalam pengakuan cintanya sampai dia mau mengikuti syariat Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, tunduk pada ajaran nabawiyah dalam seluruh ucapan, perbuatan dan keadaannya, sebagaimana berita yang datang dalam kitab Shahih dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda,


ู…َู†ْ ุนَู…ِู„َ ุนَู…َู„ุงً ู„َูŠْุณَ ุนَู„َูŠْู‡ِ ุฃَู…ْุฑُู†َุง ูَู‡ُูˆَ ุฑَุฏٌّ

“Siapa yang mengamalkan suatu amalan tidak di atas perintah/perkara kami maka amalan itu tertolak.”


Dengan mencintai-Nya, yang dibuktikan dengan mengikuti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka kita akan mendapatkan lebih daripada apa yang kita upayakan yaitu kita akan mendapatkan cinta-Nya, dan ini lebih agung daripada yang pertama (cinta kita kepada-Nya), sebagaimana kata sebagian ulama ahli hikmah,


ู„َูŠْุณَ ุงู„ุดَّุฃْู†ُ ุฃَู†ْ ุชُุญِุจَّ، ุฅِู†َّู…َุง ุงู„ุดَّุฃْู†ُ ุฃَู†ْ ุชُุญَุจَّ


“Tidaklah penting bagaimana kamu mencinta, yang penting hanyalah bagaimana kamu dicinta.”


Al-Imam al-Hasan al-Bashri rahimahullah berkata, “Ada orang-orang yang mengaku mencintai Allah subhanahu wa ta’ala, maka Allah subhanahu wa ta’ala uji mereka dengan ayat ini (ayat 31 dari surat Ali Imran). “ Karena itulah, ayat ini dinamakan ayat mihnah/ujian, kata al-Hafizh Ibnul Qayyim rahimahullah. (Tafsir Ibni Katsir, 2/24—25)


Bila Allah subhanahu wa ta’ala mencintai kita maka itu merupakan bukti cinta kita jujur kepada-Nya. Adapun bukti cinta kita kepada-Nya adalah dengan ittiba’ (mengikuti) kepada sang Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dengan ittiba’ tersebut, kita akan beroleh buahnya yaitu cintanya Dzat yang mengutus sang Rasul. Bila kita tidak mau ittiba’ kepada sang Rasul, lalu kita mengaku cinta kepada-Nya maka cinta kita ini tidaklah benar sehingga Dia pun tidak mencintai kita. (Madarij as-Salikin, 3/20)


Ada sepuluh sebab seorang hamba akan beroleh cintanya Allah subhanahu wa ta’ala sebagaimana disebutkan al-Hafizh Ibnul Qayyim al-Jauziyyah rahimahullah,


1. Membaca al-Qur’an dengan tadabbur, memahami maknanya dan apa yang diinginkan dengannya.


2. Mendekatkan diri kepada Allah subhanahu wa ta’ala dengan amalan nawafil setelah mengerjakan yang fardhu, karena ini akan mengantarkan kepada derajat dicintai setelah mencintai.


3. Terus-menerus mengingat-Nya dalam seluruh keadaan dengan lisan, kalbu, dan amalan. Bagian yang diperoleh seorang hamba dari cinta-Nya sesuai dengan bagiannya dalam mengingat Dzat yang dicinta.


4. Mengutamakan apa yang dicintai-Nya daripada apa yang kita cintai tatkala hawa nafsu sedang bergejolak.


5. Kalbu berusaha mempersaksikan dan mengenal nama-nama dan sifat-sifat-Nya, serta berbolak-balik dalam taman pengetahuan ini. Siapa yang mengenal Allah subhanahu wa ta’ala dengan nama-nama dan sifat-sifat-Nya serta perbuatan-perbuatan-Nya, dia pasti akan mencintai Allah subhanahu wa ta’ala.


6. Menyaksikan dan mengakui kebaikan-Nya dan nikmat-nikmat-Nya yang zahir maupun batin.


7. Hancur luluhnya kalbu secara total di hadapan Allah subhanahu wa ta’ala, merasa tidak berdaya sama sekali di hadapan-Nya. Tiada tersisa kesombongan sedikit pun karena menyadari diri ini tidak ada apa-apanya sama sekali di hadapan kebesaran dan kekuasaan Sang Khaliq.


8. Bersepi-sepi (khalwat) dengan-Nya di waktu turun-Nya untuk bermunajat kepada-Nya dan membaca kalam-Nya, kemudian menutupnya dengan istighfar dan tobat.


9. Duduk-duduk (bermajelis) dengan para pecinta-Nya, orang-orang yang jujur dalam keimanan mereka, dan memetik buah yang indah dari ucapan mereka sebagaimana buah yang bagus dipilih dari yang selainnya.


10. Menjauhi segala sebab yang dapat memisahkan kalbu dengan Allah subhanahu wa ta’ala. (Madarijus Salikin, 3/18)


Mari kita jujur dalam mencintai Allah SWT dan Rasul-Nya, dan janganlah terlena dengan sibuk mencinta dan mencari cinta makhluk, namun mengabaikan untuk mencintai-Nya dan beroleh cinta-Nya.

Sungguh, siapa yang mencintai-Nya dengan jujur, Dia pun akan mencintai si hamba dan menjadikan penduduk langit dan bumi mencintai si hamba, sebagaimana dalam hadits,


ุฅِู†َّ ุงู„ู„ู‡َ ุฅِุฐَุง ุฃَุญَุจَّ ุนَุจْุฏًุง ุฏَุนَุง ุฌِุจْุฑِูŠู„َ ูَู‚َุงู„َ: ูŠَุง ุฌِุจْุฑِูŠْู„ُ، ุฅِู†ِّูŠ ุฃُุญِุจُّ ูُู„ุงَู†ًุง ูَุฃَุญِุจَّู‡ُ. ู‚َุงู„َ: ูَูŠُุญِุจُّู‡ُ ุฌِุจْุฑِูŠْู„ُ. ู‚َุงู„َ: ุซُู…َّ ูŠُู†َุงุฏِูŠ ูِูŠ ุฃَู‡ْู„ِ ุงู„ْุณَّู…َุงุกِ: ุฅِู†َّ ุงู„ู„ู‡َ ูŠُุญِุจُّ ูُู„ุงَู†ًุง ูَุฃَุญِุจُّูˆْู‡ُ. ู‚َุงู„َ: ูَูŠُุญِุจُّู‡ُ ุฃَู‡ْู„ُ ุงู„ุณَّู…َุงุกِ. ุซُู…َّ ูŠُูˆْุถَุนُ ู„َู‡ُ ุงู„ْู‚َุจُูˆْู„ُ ูِูŠ ุงู„ْุฃَุฑْุถِ…


Sungguh, apabila Allah subhanahu wa ta’ala mencintai seorang hamba, Allah memanggil Jibril, lalu berkata, “Wahai Jibril, sungguh, Aku mencintai Fulan maka cintailah dia.” Jibril pun mencintai si Fulan. Kemudian Jibril menyeru kepada penduduk langit, “Sungguh, Allah mencintai Fulan, maka cintailah dia.” Penduduk langit pun mencintainya. Kemudian diletakkanlah penerimaan (rasa cinta) penghuni bumi kepada si Fulan. (HR. al-Bukhari dan Muslim)๐Ÿ™



14/10/2023

Menghadirkan Sikap Muraqabah


  

SPIRIT MBS AL HIKMAH CEPU(14.OKT) 2023๐ŸŒป


        Akhir-akhir ini kita disuguhi berita perilaku manusia yang menyimpang dari ajaran agama yang mengajarkan kebaikan hidup. Perilaku itu antara lain penyelewengan kekuasaan dan jabatan seperti perbuatan kolusi, manipulasi, korupsi, dan maksiat lainnya. Mengapa perilaku itu bisa muncul dalam diri manusia ? Apa yang menjadi pemicunya. Semua itu terjadi karena manusia kurang mumpuni dalam melakukan pengawasan yang melekat pada dirinya, yaitu tidak adanya muraqabah.

        Apa itu muraqabah ? Secara bahasa, muroqabah mempunyai arti menjaga, mengawal, menanti, mengamati dan mengawasi. Secara istilah, Muroqabah adalah kesadaran diri seseorang yang berkeyakinan bahwa dirinya selalu dalam pengawasan Allah Swt. Dengan demikian, Muraqabah artinya merasa selalu diawasi oleh Allah SWT sehingga dengan kesadaran ini mendorong manusia senantiasa rajin melaksanakan perintah dan menjauhi larangan-Nya. 

            Kesadaran itu lahir dari keimanannya bahwa Allah dengan sifat ‘ilmu, bashar, dan sama’ (mengetahui, melihat dan mendengar)-Nya, mengetahui apa saja yang dia lakukan kapan saja dan di mana saja. Semua dalam pengawasan-Nya. Menurut Rasulullah Saw. muroqabah yang paling tinggi adalah kamu beribadah seolah-olah kamu  melihat-Nya, jika kamu tidak melihat-Nya maka sesungguhnya Dia melihat kamu. Inilah yang dinamakan sikap Ihsan. 

            Makna muraqabah adalah terpatrinya perasaan keagungan Allah Azza wa Jalla di setiap waktu dan keadaan serta merasakan kebesaran-Nya di kala sepi ataupun ramai. Kuatnya kebersamaan dengan Allah SWT dapat menumbuhkan sikap yang selalu berhati-hati dalam berbuat, artinya akan senantiasa disesuaikan dengan aturan syariat. Jika keberadaan seperti ini berjalan secara istimrariyah (berkesinambungan) maka sudah dapat dipastikan kelak akan lahir pribadi-pribadi yang hanif. Yakni munculnya kesadaran akan pengawasan Allah, akan mendorong seorang muslim untuk melakukan muhasabah, yaitu perhitungan, evaluasi terhadap amal perbuatan, tingkah laku dan sikap hatinya sendiri. Menurut Raid Abdul hadi dalam bukunya mamarat al-Haq, bahwa muhasabah dapat dilakukan sebelum dan sesudah amal perbuatan dikerjakan.

Adapun manfaatnya  muhasabah adalah :

1. Untuk mengetahui kelemahan diri supaya dia dapat memperbaikinya dan juga untuk mengetahui hak Allah Swt. serta untuk mengurangi beban hisab di akherat. 

            Sikap muraqabah digambarkan oleh Nabi Muhammad SAW, ketika beliau menjelaskan kata ihsan: "Hendaklah kamu beribadah kepada Allah seolah-olah kamu melihatNya, dan jika memang kamu tidak melihat-Nya, maka sesungguhnya Allah melihat kamu." Sikap seperti ini di jaman modern sangat dibutuhkan sebagai pengendali udara materialistis yang dapat merusak sendi-sendi keimanan seseorang. Pengendalian melalui muraqabah lebih jauh akan mampu menciptakan tatanan masyarakat yang aman tentram (betul-betul terkendali).

        Pelaksanaan muraqabah dapat dimulai ketika akan melakukan suatu pekerjaan dan di saat mengerjakannya, hendaknya setiap orang mengoreksinya, apakah telah sesuai dengan aturannya atau sebaliknya. Sehingga ketika sampai pada suatu waktu tertentu akan terlihat, lebih-lebih saat bertemu dengan kegagalan. Mengapa terjadinya suatu kegagalan, padahal menurut perasaan melakukannya secara maksimal. Inti muraqabah tercermin melalui firman Allah SWT :


ุงู„َّุฐِูŠْ ูŠَุฑٰู‰ูƒَ ุญِูŠْู†َ ุชَู‚ُูˆْู…ُ - ูขูกูจูˆَุชَู‚َู„ُّุจَูƒَ ูِู‰ ุงู„ุณّٰุฌِุฏِูŠْู†َ - ูขูกูฉุงِู†َّู‡ٗ ู‡ُูˆَ ุงู„ุณَّู…ِูŠْุนُ ุงู„ْุนَู„ِูŠْู…ُ – ูขูขู 


"Yang melihat kamu ketika kamu berdiri (untuk shalat) dan melihat pula perubahan gerak badanmu diantara orang-orang yang sujud.  Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui" (QS.26:218-219).

            Sesungguhnya manusia sejatinya selalu berhasrat dan condong kepada kebaikan serta menjunjung nilai kejujuran dan keadilan, meskipun tidak ada orang yang melihatnya. Kehati-hatian (mawas diri) adalah kesadaran. Kesadaran ini makin terpelihara dalam diri seseorang hamba jika meyakini bahwa Allah SWT senantiasa melihat dirinya. 

            Syeikh Ahmad bin Muhammad Ibnu Al Husain Al Jurairy mengatakan, bahwa  “Jalan kesuksesan itu dibangun di atas dua bagian. Pertama, hendaknya engkau memaksa jiwamu muraqabah (merasa diawasi) oleh Allah SWT. Kedua, hendaknya ilmu yang engkau miliki tampak di dalam perilaku lahiriahmu sehari-hari.” Dalam setiap keadaan seorang hamba tidak akan pernah terlepas dari ujian yang harus disikapinya dengan kesabaran, serta nikmat yang harus disyukuri. Muraqabah adalah tidak berlepas diri dari kewajiban yang difardhukan Allah SWT yang mesti dilaksanakan, dan larangan yang wajib dihindari. 

            Muraqabah yang demikian dapat membentuk mental dan kepribadian seseorang menjadi baik sehingga ia menjadi manusia yang jujur. Berlaku jujurlah engkau dalam perkara sekecil apapun dan di manapun engkau berada. Kejujuran dan keikhlasan adalah dua hal yang harus engkau realisasikan dalam hidupmu. Ia akan bermanfaat bagi dirimu sendiri. Ikatlah ucapanmu, baik yang lahir maupun yang batin, karena malaikat senantiasa mengontrolmu. Allah SWT Maha Mengetahui segala hal di dalam batin. 


ูˆَุฃَู†ْ ู„َูŠْุณَ ู„ِู„ْุฅِู†ْุณَุงู†ِ ุฅِู„َّุง ู…َุง ุณَุนَู‰ٰ ﴿ ูฃูฉ﴾ ูˆَุฃَู†َّ ุณَุนْูŠَู‡ُ ุณَูˆْูَ ูŠُุฑَู‰ٰ ﴿ ูคู ﴾ ุซُู…َّ ูŠُุฌْุฒَุงู‡ُ ุงู„ْุฌَุฒَุงุกَ ุงู„ْุฃَูˆْูَู‰ٰ ﴿ ูคูก﴾ ูˆَุฃَู†َّ ุฅِู„َู‰ٰ ุฑَุจِّูƒَ ุงู„ْู…ُู†ْุชَู‡َู‰ٰ ﴿ ูคูข﴾ ูˆَุฃَู†َّู‡ُ ู‡ُูˆَ ุฃَุถْุญَูƒَ ูˆَุฃَุจْูƒَู‰ٰ ﴿ ูคูฃ﴾  ูˆَุฃَู†َّู‡ُ ู‡ُูˆَ ุฃَู…َุงุชَ ูˆَุฃَุญْูŠَุง ﴿ ูคูค﴾


 “Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya, dan bahwasanya usahanya itu kelak akan diperlihatkan (kepadanya). Kemudian akan diberi balasan kepadanya dengan balasan yang paling sempurna, dan bahwasanya kepada Tuhanmulah kesudahan (segala sesuatu), dan bahwasanya DIA yang menjadikan orang tertawa dan menangis, dan bahwasanya DIA yang mematikan dan yang menghidupkan.” (QS. An-Najm: 39-44)

                Seharusnya kita malu kepada Allah Swt. dalam setiap kesempatan dan seyogyanya hukum Allah menjadi pegangan dalam keseharian kita. Jangan kita turuti hawa nafsu dan bisikan syetan, jangan sekali-kali kita berbuat riya' dan nifaq. Tindakan itu adalah batil. Kalau kita berbuat demikian maka kita akan disiksa. Kita berdusta padahal Allah Swt. mengetahui apa yang kita rahasiakan. Bagi Allah tidak ada perbedaan antara yang tersembunyi dan yang terang-terangan, semuanya sama. Oleh karena itu, "Bertaubatlah kamu kepada-Nya dan dekatkanlah diri kepada-Nya (bertaqarrub) dengan melaksanakan suluruh perintah-Nya dan menjauhi seluruh larangan-Nya.

05/10/2023

Dosa itu Membuat Hati Berkarat


 

SPIRIT MBS AL HIKMAH CEPU  BERKEMAJUAN๐ŸŒป


            Al-Qur’an dalam berbagai suratnya sering membicarakan efek negatif dari perbuatan dosa terhadap hati manusia. Bagaimana dosa-dosa itu dapat mengotori dan menggelapkan hati. Berbagai ayat menyebutkan bagaimana dosa mampu membuat hati menjadi buta dan terkunci dari cahaya kebenaran. Seperti dalam firman-Nya,

ุฎَุชَู…َ ุงู„ู„َّู‡ُ ุนَู„َู‰ ู‚ُู„ُูˆุจِู‡ِู…ْ ูˆَุนَู„َู‰ ุณَู…ْุนِู‡ِู…ْ ูˆَุนَู„َู‰ ุฃَุจْุตَุงุฑِู‡ِู…ْ ุบِุดَุงูˆَุฉٌ ูˆَู„َู‡ُู…ْ ุนَุฐَุงุจٌ ุนَุธِูŠู…


“Allah telah mengunci-mati hati dan pendengaran mereka, dan penglihatan mereka ditutup. Dan bagi mereka siksa yang amat berat.” (Qs. Al-Baqarah:7)

Dan dalam ayat lain Allah berfirman,

ูَุฅِู†َّู‡َุง ู„َุง ุชَุนْู…َู‰ ุงู„ْุฃَุจْุตَุงุฑُ ูˆَู„َٰูƒِู†ْ ุชَุนْู…َู‰ ุงู„ْู‚ُู„ُูˆุจُ ุงู„َّุชِูŠ ูِูŠ ุงู„ุตُّุฏُูˆุฑِ


“Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada.” (Qs. Al-Hajj:46)

            Efek terburuk dari seringnya mengulangi dosa adalah gelapnya hati, hilangnya cahaya ilmu dan matinya kemampuan manusia untuk membedakan antara kebenaran dan kebatilan. Dosa yang dikerjakan oleh anggota tubuh secara otomatis mengalir ke hati dan membuatnya gelap dan membusuk. Dan efek yang paling mengerikan adalah ketika seseorang tak mampu lagi mengenali jalan yang harus ia tempuh. Sehingga ia terjerumus dalam kesesatan dan kemerosotan. Pada akhirnya dia membuang kunci kebahagiaannya dengan tangannya sendiri. Dan tidak menemukan apapun kecuali penyesalan dan kerugian. Rasulullah SAW bersabda,


ูƒَุซْุฑَุฉُ ุงู„ุฐُّู†ُูˆْุจِ ู…ُูْุณِุฏَุฉٌ ู„ِู„ْู‚َู„ْุจِ

“Banyaknya dosa akan merusak hati.”

            Dalam Hadist yang lain, beliau bersabda : “Sesungguhnya seorang hamba apabila melakukan sebuah dosa, maka hatinya ternodai dengan satu noda hitam. Jika dia bertaubat dan beristighfar maka hatinya kembali seperti baru. Dan jika ia mengulang dosa maka noda itu bertambah hingga hatinya penuh. Itulah (roin) yang disebutkan oleh Allah dalam firman-Nya,

ูƒَู„َّุง ۖ ุจَู„ْ ۜ ุฑَุงู†َ ุนَู„َู‰ٰ ู‚ُู„ُูˆุจِู‡ِู…ْ ู…َุง ูƒَุงู†ُูˆุง ูŠَูƒْุณِุจُูˆู†َ

“Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutupi hati mereka.” (Qs. Al-Muthaffifin:14) 


            Dari sini dapat kita simpulkan bahwa perbuatan manusia sangat mempengaruhi kondisi Ruhani dan kejiwaan mereka. Secara bertahap dosa-dosa itu juga akan mempengaruhi cara berpikir manusia. Yang paling ditakutkan adalah dosa yang dilakukan terus menerus membuat hati manusia semakin gelap dan gelap. Hingga suatu saat dia akan melihat keburukannya sebagai kebaikan. Dan ini adalah kondisi terburuk sehingga sangat sulit baginya untuk kembali. Bagaimana ia akan kembali sementara ia menganggap keburukannya sebagai kebaikan ? Hanya Kuasa Allah-lah yang mampu menyadarkan dan mengembalikan mereka. Semoga Allah menjaga hati kita dari kotoran dosa dan gelapnya maksiat.⁠⁠⁠⁠



03/10/2023

Menanti Syafaat Rasulullah SAW


SPIRIT MBS AL HIKMAH CEPU (Selasa 3.10.) 2023๐ŸŒป


            Hari kiamat adalah akhir dari segala sesuatunya. Peristiwa maha dahsyat ini akan meluluh-lantakkan tak hanya bumi, namun juga semesta. Semuanya akan musnah kecuali Allah. Sebagaimana firman Allah dalam surah Ar-Rahman,: “Semua yang ada di bumi itu akan binasa: Dan tetap kekal Dzat Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan,” (Ar-Rahman:26-27) 

            Setelah peristiwa maha dahsyat itu terjadi, seluruh manusia pun dibangkitkan di Padang Mahsyar. Di sinilah semua amal perbuatan manusia akan dipertanggungjawabkan. Di sinilah penentuan. Apakah nanti kita akan masuk surga atau neraka. Ketika itu kondisi di Padang Mahsyar sangatlah kacau balau. Saking takutnya, mereka bahkan tak peduli dengan anak, istri, orangtua, yang dipikirkan hanya keselamatan diri sendiri. Jadi, meskipun ada anak kandungnya disampingnya diseret oleh malaikat pun, ia tak akan peduli. Apalagi kala itu matahari berada diatas kepala manusia dan hanya berjarak 1 mil saja. Kondisinya sudah pasti sangat panas. Beruntungnya, kita akan mendapatkan syafaat oleh Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam yang akan mengantarkan kita ke surga. ๐Ÿ’

             Penantian Rasululullah ini pun juga diceritakan bahwa Rasulullah akan menanti kita untuk memberi pertolongan di Padang Mahsyar, tepatnya di Telaga Kautsar. Barulah setelah itu menuju ke Mizan lalu ke Shirath. Nabi Muhammad Saw akan menemui umatnya di Telaga Kautsar.  Apa itu Al-Kautsar? Al-Kautsar bisa diartikan sebagai kebaikan yang banyak. Bisa pula nama sungai di surga atau nama telaga Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam. Rincian pengertian Al-Kautsar disebutkan dalam Zaad Al-Masiir, 9: 247-249. 

                Telaga Kautsar adalah telaga yang begitu besar di mana airnya berasal dari sungai Al-Kautsar yang ada di surga. Telaga inilah yang nantinya akan didatangi oleh seluruh umat Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam. Hal ini telah disampaikan oleh Beliau dari hadis yang diriwayatkan oleh Anas. Ketika Beliau Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam sedang tidur beliau kemudian tersenyum sambil mengangkat kepala. Kemudian Kami pun bertanya, “Mengapa engkau tertawa, wahai Rasulullah?” “Baru saja turun kepadaku suatu surah”, jawab Beliau. Kemudian Beliau  membaca Surat Al-Kautsar ayat 1-3. 


ุจِุณْู…ِ ุงู„ู„َّู‡ِ ุงู„ุฑَّุญْู…َู†ِ ุงู„ุฑَّุญِูŠู…ِ.  ุฅِู†َّุง ุฃَุนْุทَูŠْู†َุงูƒَ ุงู„ْูƒَูˆْุซَุฑَ. ูَุตَู„ِّ ู„ِุฑَุจِّูƒَ ูˆَุงู†ْุญَุฑْ.  ุฅِู†َّ ุดَุงู†ِุฆَูƒَ ู‡ُูˆَ ุงู„ุฃَุจْุชَุฑُ


1. Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak. 2. Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu; dan berkorbanlah. 3. Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu Dialah yang terputus.


ู‡َู„ْ ุชَุฏْุฑُูˆْู†َ ู…َุง ุงู„ْูƒَูˆْุซَุฑُ ؟ ู‚ُู„ْู†َุง ุงู„ู„ู‡ُ ูˆَุฑَุณُูˆْู„ُู‡ُ ุฃَุนْู„َู…ُ . ู‚َุงู„َ ูَุฅِู†َّู‡ُ ู†َู‡ْุฑٌ ูˆَุนَุฏَู†ِูŠู‡ِ ุฑَุจِّู‰ ุนَุฒَّ ูˆَุฌَู„َّ ุนَู„َูŠْู‡ِ ุฎَูŠْุฑٌ ูƒَุซِูŠุฑٌ ู‡ُูˆَ ุญَูˆْุถٌ ุชَุฑِุฏُ ุนَู„َูŠْู‡ِ ุฃُู…َّุชِู‰ ูŠَูˆْู…َ ุงู„ْู‚ِูŠَุงู…َุฉِ ุขู†ِูŠَุชُู‡ُ ุนَุฏَุฏُ ุงู„ู†ُّุฌُูˆู…ِ ูَูŠُุฎْุชَู„َุฌُ ุงู„ْุนَุจْุฏُ ู…ِู†ْู‡ُู…ْ ูَุฃَู‚ُูˆู„ُ ุฑَุจِّ ุฅِู†َّู‡ُ ู…ِู†ْ ุฃُู…َّุชِู‰. ูَูŠَู‚ُูˆู„ُ ู…َุง ุชَุฏْุฑِู‰ ู…َุง ุฃَุญْุฏَุซَุชْ ุจَุนْุฏَูƒَ


            Kemudian beliau berkata, “Tahukah kalian apa itu Al Kautsar?” “Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui”, jawab kami. Rasulullah shallallahu  ‘alaihi wa sallam bersabda,  “Al Kautsar adalah sungai yang dijanjikan oleh Rabbku ‘azza wa jalla. Sungai tersebut memiliki kebaikan yang banyak. Ia adalah telaga yang nanti akan didatangi oleh umatku pada hari kiamat nanti. Bejana (gelas) di telaga tersebut sejumlah bintang di langit. Namun ada dari sebagian hamba yang tidak bisa minum dari telaga tersebut.  Allah berfirman: Tidakkah engkau tahu bahwa mereka telah amalan baru sesudahmu.” (HR. Muslim, no. 400).


ุนَู†ْ ุฃَุจِู‰ ุฐَุฑٍّ ู‚َุงู„َ ู‚ُู„ْุชُ ูŠَุง ุฑَุณُูˆู„َ ุงู„ู„َّู‡ِ ู…َุง ุขู†ِูŠَุฉُ ุงู„ْุญَูˆْุถِ ู‚َุงู„َ « ูˆَุงู„َّุฐِู‰ ู†َูْุณُ ู…ُุญَู…َّุฏٍ ุจِูŠَุฏِู‡ِ ู„ุขู†ِูŠَุชُู‡ُ ุฃَูƒْุซَุฑُ ู…ِู†ْ ุนَุฏَุฏِ ู†ُุฌُูˆู…ِ ุงู„ุณَّู…َุงุกِ ูˆَูƒَูˆَุงูƒِุจِู‡َุง ุฃَู„ุงَ ูِู‰ ุงู„ู„َّูŠْู„َุฉِ ุงู„ْู…ُุธْู„ِู…َุฉِ ุงู„ْู…ُุตْุญِูŠَุฉِ ุขู†ِูŠَุฉُ ุงู„ْุฌَู†َّุฉِ ู…َู†ْ ุดَุฑِุจَ ู…ِู†ْู‡َุง ู„َู…ْ ูŠَุธْู…َุฃْ ุขุฎِุฑَ ู…َุง ุนَู„َูŠْู‡ِ ูŠَุดْุฎُุจُ ูِูŠู‡ِ ู…ِูŠุฒَุงุจَุงู†ِ ู…ِู†َ ุงู„ْุฌَู†َّุฉِ ู…َู†ْ ุดَุฑِุจَ ู…ِู†ْู‡ُ ู„َู…ْ ูŠَุธْู…َุฃْ ุนَุฑْุถُู‡ُ ู…ِุซْู„ُ ุทُูˆู„ِู‡ِ ู…َุง ุจَูŠْู†َ ุนَู…َّุงู†َ ุฅِู„َู‰ ุฃَูŠْู„َุฉَ ู…َุงุคُู‡ُ ุฃَุดَุฏُّ ุจَูŠَุงุถًุง ู…ِู†َ ุงู„ู„َّุจَู†ِ ูˆَุฃَุญْู„َู‰ ู…ِู†َ ุงู„ْุนَุณَู„ِ 


            Dalam hadits yang diriwayatkan Abu Dzar pun kemudian disebutkan, “Wahai Rasulullah, bagaimana dengan bejana yang ada di al-haudh (telaga Al-Kautsar)?”, Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam menjawab, _“Demi jiwa Muhammad yang berada di tangan-Nya. Wadah untuk minum yang ada di telaga Al-Kautsar banyaknya seperti jumlah bintang dan benda yang ada di langit pada malam yang gelap gulita. Itulah gelas-gelas di surga. Barang siapa yang minum air telaga tersebut, maka ia tidak akan merasa haus selamanya. Di telaga tersebut ada dua saluran air yang tersambung ke Surga. Barang siapa meminum airnya, maka ia tidak akan merasa haus. Lebarnya sama dengan panjangnya, yaitu seukuran antara Amman dan Ailah. Airnya lebih putih dari pada susu dan rasanya lebih manis dari pada manisnya madu.” (HR. Muslim, no. 2300) 

            Sungguh rugi jika selama hidup di dunia telah banyak melakukan amal-amal kebaikan, tapi ketika dihadapan Allah Swt. semua tidak berguna karena sebuah kesalahan. Bisa jadi seseorang memiliki banyak amal seperi puasa, salat malam, haji, sedekah, dan amal baik lainnya. Namun semua itu ternyata tidak berguna ibarat debu yang beterbangan. Hal ini telah diinformasikan  oleh Rasulullah saw. dalam sebuah hadits yang menyebutkan bagaimana seseorang bisa merugi karena ia memiliki amal yang banyak tapi semua hilang karena sebuah dosa yang ia lakukan. Beliau menyebutkan ada hadis dari Tsauban ra. bahwa Nabi Muhammad saw. bersabda:


ุฃَุนْู„َู…َู†َّ ุฃَู‚ْูˆَุงู…ًุง ู…ِู†ْ ุฃُู…َّุชِูŠ ูŠَุฃْุชُูˆู†َ ูŠَูˆْู…َ ุงู„ْู‚ِูŠَุงู…َุฉِ ุจِุญَุณَู†َุงุชٍ ุฃَู…ْุซَุงู„ِ ุฌِุจَุงู„ِ ุชِู‡َุงู…َุฉَ ุจِูŠุถًุง ูَูŠَุฌْุนَู„ُู‡َุง ุงู„ู„َّู‡ُ ุนَุฒَّ ูˆَุฌَู„َّ ู‡َุจَุงุกً ู…َู†ْุซُูˆุฑًุง ู‚َุงู„َ ุซَูˆْุจَุงู†ُ ูŠَุง ุฑَุณُูˆู„َ ุงู„ู„َّู‡ِ ุตِูْู‡ُู…ْ ู„َู†َุง ุฌَู„ِّู‡ِู…ْ ู„َู†َุง ุฃَู†ْ ู„َุง ู†َูƒُูˆู†َ ู…ِู†ْู‡ُู…ْ ูˆَู†َุญْู†ُ ู„َุง ู†َุนْู„َู…ُ ู‚َุงู„َ ุฃَู…َุง ุฅِู†َّู‡ُู…ْ ุฅِุฎْูˆَุงู†ُูƒُู…ْ ูˆَู…ِู†ْ ุฌِู„ْุฏَุชِูƒُู…ْ ูˆَูŠَุฃْุฎُุฐُูˆู†َ ู…ِู†ْ ุงู„ู„َّูŠْู„ِ ูƒَู…َุง ุชَุฃْุฎُุฐُูˆู†َ ูˆَู„َูƒِู†َّู‡ُู…ْ ุฃَู‚ْูˆَุงู…ٌ ุฅِุฐَุง ุฎَู„َูˆْุง ุจِู…َุญَุงุฑِู…ِ ุงู„ู„َّู‡ِ ุงู†ْุชَู‡َูƒُูˆู‡َุง

            “Sungguh saya telah mengetahui bahwa ada suatu kaum dari umatku yang datang pada hari kiamat dengan membawa kebaikan sebesar Gunung Tihamah yang putih. Kemudian Allah menjadikannya debu yang berterbangan.” Tsauban bertanya, “Wahai Rasulullah, sebutkanlah ciri-ciri mereka dan jelaskanlah perihal mereka agar kami tidak menjadi seperti mereka tanpa disadari.” Beliau bersabda: “Sesungguhnya mereka adalah saudara kalian dan dari golongan kalian, mereka shalat malam sebagaimana kalian, tetapi mereka adalah kaum yang jika bersendirian mereka menerjang hal yang diharamkan Allah.” (HR. Ibnu Majah)

            Itulah hadits yang memberi tahukan bahwa seseorang yang datang dengan amal kebaikan sebanyak Gunung Tihamah tapi semua menjadi debu (tidak berguna) karena ia bermaksiat kepada Allah ketika sendiri. Seseorang sangat mungkin menjauh dari dosa dan maksiat saat berada di hadapan dan dilihat orang lain. Akan tetapi jika ia menyendiri dan terlepas dari pandangan manusia, ia melepaskan tali kekang nafsunya lalu melakukan dosa dan melanggar apa yang diharamkan oleh Allah. Semakna dengan hadis Tsauban, Allah Swt. juga berfirman dalam surat An-Nisa ayat 108: “Mereka dapat bersembunyi dari manusia, tetapi mereka tidak dapat bersembunyi dari Allah, karena Allah beserta mereka, ketika pada suatu malam mereka menetapkan keputusan rahasia yang tidak diridai-Nya. Allah Maha Meliputi apa yang mereka kerjakan.” 

            Dalam ayat ini Allah menegaskan bahwa sesungguhnya Allah Maha Melihat apa saja yang dikerjakan hamba-hambaNya meskipun di malam hari dan tidak ada seorang pun yang melihatnya. Mengapa dosa ini yaitu bermaksiat ketika sendiri dapat menghapus amal kebaikan meskipun sebesar gunung sekalipun?  Sesungguhnya sikap ini menunjukkan sikap munafik. Dalam hal ini meski sifat munafiknya bukan dalam sisi iktikad (keyakinan) tapi dari sisi amalan. Ibnu Rajab di dalam kitab Jami’ul- ‘Ulum wal-Hikam berkata: “Takwa kepada Allah dalam ketersembunyian adalah tanda kesempurnaan iman. Hal ini berpengaruh besar pada pujian untuk pelakunya yang Allah ‘sematkan’ pada hati kaum mukminin.”. Maka tidak hanya merugi tapi sungguh celaka karena dosa yaitu berani bermaksiat dikala sendiri ini menjadikan amalan kebaikan yang dilakukan tidak lagi berguna. Ibnul-A’rabi di dalam kitab Syu’abul-Iman lil-Baihaqi berkata: “Orang yang paling merugi, ialah yang menunjukkan amal-amal salehnya kepada manusia dan menunjukkan keburukannya kepada Allah yang lebih dekat kepadanya dari urat lehernya.”

            Syaikh Muhammad Al-sMukhtar Asy-Syinqithi dalam kitab Syarh Zaad Al-Mustaqni’ berkata jika seseorang melakukan maksiat secara sembunyi-sembunyi tapi penuh penyesalan maka orang tersebut bukan termasuk merobek tabir untuk menerjang yang haram. Karena orang semacam ini saat mengagungkan syariat Allah ia terkalahkan oleh syahwatnya. Adapun yang bermaksiat dalam keadaan berani (menganggap remeh) itulah yang membuat amalnya terhapus. Mengingat betapa meruginya orang yang berbuat demikian, maka sekuat tenaga kita harus berusaha untuk menjauhinya. Sebab Allah Maha Melihat apa yang dikerjakan hamba-hamba-Nya baik di kala ramai atau sepi.